Teheran Dalam Stoples

Bulan penuh berkah
Mullah Fairus datang lebih awal dari biasanya. Mahmud Nampak sangat cerah hari ini. Mullah mengajarkanku tentang arti pentignya puasa karena beberapa hari lagi puasa akan tiba.

Mullah dengan sabar menjawab semua pertanyaan konyolku tentang ini dan juga itu yang tak logis. Saat itulah aku bertanya pada diriku apa mazhabku.

Aku baru tahu apa itu Syiah dan juga Sunni. Tapi aku tak memperdulikannya.

Apa yang orang tuaku pilih itulah yang terbaik bagiku. Perasaan gejolak tentang siapa aku timbul dengan seketika saat kami melaksanakan salat tarawih. Memang orang Syiah tak melaksanakan salat tarawih, bahkan masjid Al Nur yang berada di depan rumah kami juga tampak seperti biasanya saja.

Aku tak berani bertanya tentang yang terjadi di rumahku. Dua mazhab dengan anak yang bertanya tinggal dalam satu atap. Banyak perbedaan yang terjadi dan ibuku dengan sabar menjelaskannya dan menentukan pilihannya padaku.

Saat ramadhan ibu selalu menyediakan menu makanan yang khusus. Banyak minuman manis dan juga kue basah yang ia buat. Ibu menganggap bahwa bulan ini adalah bulan yang penuh berkah dan juga kasih sayang.

Hanya satu hal yang menarik dari semuanya: kembang api yang aku nyalahkan di halaman setelah salat tarawih. Ayahku jadi imamnya dan kami makmumnya. Adikku Ghazali akan dititipkan pada khala. Aku dengan riangnya akan berputar dengan membawa kembang api.

Ali juga melakukannya hal yang sama. Hari yang sangat indah.

Ramdhan di Iran tidaklah seheboh di tempat yang lain. Aku ingat ketika mulai puasa penuh.

Saat itu usiaku menginjak sembilan tahun. Ibu mengajakku jalan-jalan di sore hari. Tak ada orang yang menjajakan minuman atau makanan yang khas ramadhan. Saat itu ibu sedang mengandeng tanganku dan tangan adikku yang berusia lima tahun.

Aku ingat ketika itu aku melihat temanku Khafsah sedang menjajakan makanan. Kerudung tipis, baju lengan panjang, dan juga celana panjangnya itu selalu bisa aku kenang. Gadis yang rambutnya menjutai disela-sela kerudung dan wajahnya dan kerudungnya.

Ujung celana dan juga kakinya berdebu. Sandal plastik ukuran anak laki-laki yang dipakainya membuat setiap mata yang melihatnya miris. Kepalanya yang munggil harus memangguh satu nampan yang terbuat dari besi, yang penuh dengan kue argha -kue khas Iran yang terbuat dari gandum dengan taburan garam di atasnya.

Aku berlari mendekatinya. Ibu tak menghalangiku.

“Apa kabar khanum?” katanya saat melihat ibuku.
“Baik, kau bagaimana?”
“Saya baik khanum. Apa yang anda lakukan?” tanyanya sambil menurunkan nampannya.
“Membeli kuemu.”

Satu kue harganya satu rial. Ibu memasukkan semua kue ke dalam keranjang dan memberi uang 100 real padanya.

Khafsah melirik ibuku, bertanya dan juga tak percaya.

“Terimalah. Ini untukmu,” kata ibu.
“Tapi khanum buat apa semua kue itu?”

Ibu hanya tersenyum, lalu tak membalasnya. Hanya kebisuan yang ia berikan.

Khafsah mencium tangan ibuku dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Aku tak bertanya untuk apa kue itu karena aku tahu kalau dunia ibuku adalah sebuah dunia yang tak mampu dijangkau orang seperti aku.

Ibuku mengajakku untuk membeli satu-satunya makanan khas Iran untuk ramadhan yakni ash dan halim. Aku tak begitu suka ash karena aku sedang sangat jatuh cinta dengan halim. Halim adalah makanan bubur gandum dengan campuran daging yang dimasak lama sehingga dagingnya hancur dan hanya bisa dirasakan seratnya saja.

Ibu hanya membeli porsi kecil karena keluargaku tak ada yang suka.

Di sepanjang perjalanan ibu membagikan semua kue yang ia bawa dan hanya menyisakan tujuh kue.

Kami kali ini memakan masakan menu Iran. Nan, teh panas, kurma, keju putih, sayuran mentah, dan halim.
***
bersambung