Teheran Dalam Stoples

Mauludi
Ummu meminta kami pulang agak lama. Kami akan menghias kelas kami dengan aneka bunga. Sudah hampir seminggu yang lalu banyak toko yang menjual aneka kue. Kami menghias kelas dengan banyak kertas yang berwarna. Lalu kami akan pulang. Kata ibu, ia akan mengajakku menuju rumah klan Khan. Rumah Faris.

Katanya disana ada pesta mauludi.

Saat kami berjalan pulang. Sepanjang perjalanan kami mendapatkan kue dan minuman gratis.

Aku memberikan setengah bagianku untuk Khafsah dan juga adiknya. Kami sangat senang dengan kota yang banyak menyediakan makanan gratis dan juga perayaan agama yang mewah. Kami juga melihat pegawai pemerintah yang sedang memasang lampu hias.

Pemerintah akan mengadakan pesta kembang api di beberapa alun-alun. Ini adalah hari pesta nasional untuk perayakan kelahiran Imam Mahdi. Selain ada perayaan yang sifatnya fisik, ada juga perayaan yang sifatnya spiritual. Akan ada hafalan al Qur’an yang diadakan di masjid. Ini adalah hari sukacita di Iran, di hari Nisf-e Sya’ban (tanggal 15 Sya’ban).

Sepulang sekolah ibu langsung menyuruhku untuk berganti pakaian karena kami akan mengunjungi rumah Faris. Khanum Reihane sudah menelpon dan ibu disuruh kesana.

Aku berbegas berganti pakaian. Ibu dan juga khala sudah menungguku di ruang tamu. ibu masih juga merapikan bajuku. Kulihat mereka membawa banyak kue dan juga permen. Ibu menyuruhku membantu membawanya.

Ghazali sangat bersemangat begitu pula aku, karena ini pertama kalinya aku pergi ke pesta.

Ayah juga dengan semangat menuju rumah orang itu.

Kami memasuki rumah yang hampir sama dengan rumahku. Kami di sambut hangat dan seperti kebiasaan orang Iran lainnya aku tahu kalau mereka sangat suka basa basi. Khanum Reihane menyapa ibu,

Chera zahmat keshidin? (mengapa kalian bersusah payah?)” katanya sambil menyambut kedatangan kami.
Zahmati nist, qabele shoma nadare (tidak ada yang susah payah, ini tak pantas untuk Anda)”

Lalu mereka saling tersenyum dan menunjukan kehangatan. Dengan bangga dan juga tanpa malu saat ditanya orang siapa Aisyah. Ibu akan menjawab ia adikku. Itu yang ibu katakan. Tanpa beban dan juga seolah hal yang ibu katakan adalah benar.

Di dalamnya ada orang yang menabuh daf (rebana) dan banyak permen yang bertebaran. Anak kecil akan memungutinya dan juga kami akan menari. Faris dan juga dua ajudan ciliknya menari. Ia memanggilku dan aku menarik Ali.

Tanpa beban kami habiskan masa indah itu. dengan banyak tawa dan juga tanpa kesedihan. Tak peduli apa yang akan terjadi di hari esok, yang trepenting kami habiskan hari ini dengan banyak kebahagiaan. Butiran kebahagiaan adalah emas yang kami tabung dan saat kami dewasa kami akan membuka tabungan itu.

Kami terbang bebas dengan alunan musik. Aku bebas berputar-putar karena aku masih sembilan tahun. Aku masih sangat jauh untuk mengerti apa itu masa depan dan apa itu cita-cita. Biarkan aku berputar seluasa mungkin. Menikmati mandi matahari dan juga udara yang ada di ruangan ini. malam harinya kami semua menuju halaman muka rumahku.

Kami melihat kembang api dan saat itulah aku berandai-andai tentang masa depan untuk pertama kalinya. Aku ingin menjadi seperti ayahjuga, aku ingin menjadi seperti ibu, dan aku ingin menjadi orang yang baik.

Walau di belahan dunia lainnya, tepatnya di Irak dan juga kwait menangisi kemalangan nasib mereka akibat perang teluk tapi tidak untuk kami yang tinggal di Teheran. Pesta dan juga semangat itu masih ada. timur tengah selalu mencekam di tahun 1980-1990’an.

Dan anehnya semua itu malah kami nikmati sebagai ujian hidup. Bahkan seorang menulis dalam surat kabar, bahwa tak akan ada kebahagiaan jika kita tak mengalami apa yang dinamakan penderitaan.

Iran semakin ditekan, Iran semakin bangkit. Negara ini tak akan takut dengan apapun selagi masih banyak Mullah yang membangun tekat mereka. hanya Allah yang bisa menghentikan gejolak jiwa bajanya.

Hanya takdir yang mampu mengubah semuanya.
***
bersambung

pencerita

Leave A Comment