Teheran Dalam Stoples

Cemburu
Aku pulang dengan cemberut setelah sekolah. Aku melihat ibuku sedang mengajari Khala Khumairah ibu dari Ma’arif memasak. Aku mulai iri dan cemburu karena ibu sibuk dengan para tetangga yang penasaran dengan ibuku. Meski ibu selalu menyempatkan banyak waktu untukku namun ibu tak seperti dahulu lagi.

Aku juga marah untuk hari ini. hari ini ibu sibuk dengan wanita Khan itu. wanita yang bahkan tak bisa dengan sempurna mengupas apel. Aku marah karena ibu tak tahu betapa binggungnya aku karena aku tak bisa menjawab apa pekerjaan ayahku. Itu tugasku, aku tak tahu apa pekerjaan ayahku.

Aku juga tak tahu sama sekali. Aku mengungkapkan kejengkelanku pada ayunanku. Aku menaikinya menerbangkannya setinggi mungkin dan aku ingin  menjadi burung yang bebas melakukan apapun.

Khala menatapku dari candela kamar anaknya yang berada di lantai dua. Ia menutup candela itu dan berlari menuju lantai bawah. Ku kira ia akan mendekatiku namun tidak dan aku benci semuanya. Aku menuju kebun rahasiku dan aku menagis disana. Ayah yang tak tahu entah ke mana, ibu yang sibuk, khala yang tak mengerti dengan tulisan dan juga Ali yang tak akan pernah tahu apa yang aku rasakan.

Aku menangis sejadi-jadinya membiarkan aku sendirian tanpa arah dan juga tujuan. Aku seolah manusia yang terasing yang tak tahu dengan banyak hal dan tak ada yang mau mengerti aku. Aku menyandarkan bahuku di delima yang memerah itu. Aku menangis dan bahkan anginpun enggan menyapaku.

Entah berapa lama aku melakukannya aku tak tahu. Yang aku tahu adalah satu hal dan tak mau aku lupakan seumur hidupku. Ali berdiri tegak, menghalagi matahari menyengat kulitku. Ia mendekatiku dan memelukku dengan tiba-tiba. Aku tahu sekarang kalau Ali tahu apa yang aku alami. Ia tahu hatiku, dan aku sangat senang. Ia melepas pelukanku dan ia duduk disampingku.

“Ali, aku marah pada ibu dan juga ayah yang sibuk…” kalimatku terhenti saat ia mengangkat wajahku dengan kedua tangannya dan ia melihatku dengan seksama.

Matanya lebih terluka dari mataku. Ia lebih dalam dan lebih parah hingga kata-kata tak mampu mengungkapkan betapa sakitnya kehidupannya. Ia menurunkannya dan ia menghapus air mataku.

Hatiku yang meradang langsung padam seketika. Aku tenang kembali dan aku sudah tak mampu lagi melukiskan marahku. Aku juga tak mampu lagi melukiskan betapa aku senang hari ini. Ali temanku, dan ia tahu apa yang aku alami. Ia tidaklah bodoh seperti yang aku bayangkan. Ternyata di dalam tubuh yang tak bernyawa lentera jiwa itu masih ada.

Aku merangkulnya, aku mengajaknya pulang dan aku ingin becerita bayak hal.

Setelah aku membuka pintu halaman, ibuku berlari mendekati aku yang masih memakai pakaian sekolah. Ia mengangkatku dan ia menangisi aku.

“Kau dari mana saja sayang?”
“Dari kebun rahasiaku.” Ia menggandeng tangan Ali.
“Ibu… apa pekerjaan ayah?”
“Apa kau ada tugas?”

Aku mengangguk dalam rangkulannya. Ia mencumku sama ciuman yang diperoleh adikku. Harusnya aku tak marah karena aku tak mendapatkan apapun. Kemarahan hanya akan membutakan mataku dan juga batinku akan betapa indahnya dunia ini.

Ibuku mengantarkanku menuju kamarku. Ia mengambil buku tugasku yang sempat terlempar dari tempat yang seharusnya. Buku yang tergolak tak berdaya di lantai dekat kolong tempat tidurku. Ibuku mengambilnya dan ia membacanya. Lalu ia menarik nafas yang melegakan dan menuju kamarnya. Berganti pakaian dan memakai chadur hitam yang panjang.

Ibuku mengajakku menuju sebuah tempat yang asing. Ia berjalan menuju jalan raya dan kami menaiki taksi.

Di depan gedung parlemen, taksi terhenti. Kulihat ada sebuah kantor baru yang menangani masalah perminyakan. Ibuku turun dan mengandengku lalu ia masuki dan naik tangga. Semua orang memberi hormat pada ibuku. Ibu juga menyalami balik mereka dengan sopan.

Ia memasuki ruangan yang berada di lantai dua dengan papan nama di depan pintu. Manjer Umum, nama itu dengan bangga terletak di depan pintu kayu putih. Ibu membuka pintu dan kulihat ayahku sedang duduk di sebuah meja sambil membaca berkas.

Ayah kaget dengan kedatangan kami. ia langsung mengangkatku dan memelukku. Mencium keningku dan ia mengajakku duduk di pangkuannya.

Aku menunjukan buku tugasku dan ayah tersenyum. Dengan tanpa paksaan ia dengan suka rela membantuku mengerjakan tugas. Ibuku punya cara tersendiri menunjukan sesuatu yang tak aku ketahui. Dia ibuku dan ibuku yang terbaik sedunia dan tentu saja ayah adalah ayah yang terbaik sedunia.

***
bersambung

pencerita

Leave A Comment