Teheran Dalam Stoples

Rumah Keluarga Khan
Setiap pulang sekolah, kini, ada perasaan yang bersemangat. Aku ingin bertemu ketiga anak keluarga Khan untuk mengatur pertemuan permintaan maaf mereka dengan Ali dan juga memamerkan langsung kepada ibu tentang kekuatan baru yang kumiliki. Tapi tak pernah terwujud: mereka tidak pernah terlihat lagi sampai kami berbelok ke jalan arah rumah.

Rada kesal karena pikiranku semakin memastikan bahwa mereka memang meminta maaf karena diminta baba mereka. Maka khususlah mereka menunggu aku, dan setelah itu maka urusan beres.

Tapi aku tidak menyerah dan esoknya pelan-pelan aku membangun kembali semangat itu. Bukan hanya karena aku sudah berjanji dengan Ali, juga ingin memastikan apakah sebenarnya kekuatanku yang menaklukkan mereka atau sebenarnya dari ummu. Apakah aku sebenarnya hanya menjadi tertawaan mereka saja ketika sudah berdiri sendiri sebagai seorang anak perempuan, yang sedang tidak bersama ummu Khoira.

Aku harus bertemu mereka dan mereka harus meminta maaf pada Ali, itulah tekadku. Bahkan sudah muncul rencana untuk bertemu baba mereka untuk menagih janji maaf kepada Ali.

Suatu hari, aku harus pulang sendiri. Ibu pelan-pelan memang semakin sering melepasku sendiri untuk pergi dan pulang sekolah. Menjelang akhir pelajaran, aku juga tidak melihat isyarat dari ummu untuk pulang bersamaku, dan di dalam hati aku menduga dia dan ibu sudah berbicara dan memang sengaja membiarkanku untuk mandiri. Hari itu, lega rasanya ibu tidak menjemput dan ummu tidak berjalan bersamaku.

Begitu lonceng sekolah berbunyi, kulirik Khafsah dan kucolek tangannya. Temanku itu tahu bahwa itu artinya kami akan jalan bersama. Begitu ke luar kelas, aku langsung berbisik, “antar aku ke rumah Khan.”

Khafsah tampak terkejut. “Untuk apa?”
“Hanya melihat saja, kita lewat saja.”
“Untuk apa?” tanyanya lagi ragu. Khafsah punya alasan khawatir karena dia melihat kami diludahi oleh anak kriwul keluarga Khan. Mungkin dia takut aku mengetuk pintu rumah itu atau melemparnya.
“Aku mau tahu rumah mereka.”
“Hanya itu…”