Media Massa, Dinosorus abad 20


Liston P Siregar

Coba ingat-ingat, darimana kalian pertama kali mendengar hasil penghitungan suara di DPR tentang pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh DPRD, jadi bukan pilsung (pilihan langsung, kalok ente kurang bergaul)? Waktu itu voting berlangsung sampai sekitar jam tiga subuh, dan sejumlah stasiun TV menyiarkan langsung.

Kok jadi panjang, balik ke pertanyaan: darimana pertama kali mendengar hasil votingnya?
Dari siaran langsung TV (Anda bergadang juga kayak wartawan-wartawan di Gedung DPR?) atau siaran berita TV waktu sarapan pagi, di radio sambil nyetir ke kantor, dari kawan yang menelepon ke rumah, atau ketika membaca koran di KRL Depok-Jakarta (yang ini bohong: nggak mungkin koran pagi terbit dengan berita tentang peristiwa jam 3 subuh).

Tapi jawaban-jawaban itu -anggaplah yang dari koran tadi tidak bohong- rasanya sudah terlalu kuno. Jadi kita modernkan sikit: dari Kompas.com, Tempo.co, atau mailing list?
Masih kurang ‘cool’ juga? Kalok ini: dari Facebook, Twiter, Google+, atau grup Watsapp?
Baru lebih pas rasanya.

“Dari ciutan Menkominfo Tifatul Sembiring,” misalnya.

Perkembangan teknologi media sosial memang memungkinkan seseorang –giliran Tifatul Sembiring dulu jadi tokohnya- bisa menyampaikan pesan langsung kepada ratusan ribu orang. Sekitar sepekan sebelum Kabinet Indonesia Bersatu 2 habis masa jabatannya, politikus PKS itu memiliki 818.000 pengikut di Twitter dan per Selasa 28 Oktober sudah naik jadi 825.000. Bandingkan dengan tiras Kompas, yang diakui sekitar 500.000 setiap harinya, atau Koran Tempo rata-rata per hari 240.000.

Dan Tifatul hanya perlu satu dua menit menulis 140 kata dan satu pencetan agar 818.000 orang menerima pesannya, menerima beritanya. Tak perlu mobil barang untuk distribusi, juga tak perlu penjual koran di lampu merah, atau abang pengantar koran ke rumah-rumah. Satu pencet!

Kita mundur dulu ke 11 tahun lalu (Facebook mulai layanan awal 2004 dan Twitter pertengahan 2006). Tahun 2003, kalau Tifatul mau menyampaikan pesan ke puluhan ribu, apalagi ratusan ribu orang, pada waktu yang ‘bersamaan’ maka dia harus diwawancara TV, radio, atau koran (bisa juga belii ruang iklan yang mahal kali). Singkatnya untuk mencapai massa maka harus menggunakan media massa.

Sekarang kita beranjak ke apa itu media massa? Jawaban gampangnya: tempat kerja wartawan atau jurnalis.

Terus apa syaratnya untuk disebut media massa?

Media itu harus untuk massa, yaitu sejumlah besar orang yang saling tidak mengenal, tidak punya hubungan langsung, dan juga tidak berbentuk. Singkatnya sekumpulan orang yang tidak terlalu jelas bentuk dan tujuannya. Jumlah massa? Nggak jelas. Yang pasti bukan dua atau tiga orang (itu mungkin lebih tepat disebut duo atau trio). Puluhan? Ya dan tidak, tapi kemungkinan besar tidak. Ratusan? Juga masih ya dan tidak. Ribuan, makin dekat ke massa dan puluhan ribu atau ratusan ribu, masuklah untuk disebut massa.

Syarat massa yang paling penting adalah kumpulan orang itu tidak saling kenal, tapi mereka diikat oleh satu hal. Menggunakan tokoh utama seri ini, Tifatul Sembiring, maka 800.000 orang lebih pengikutnya adalah massa. Memang Twitter punya fasilitas untuk saling mengenalkan, tapi 800.000 pengikut Tifatul tetap saja tidak saling mengenal.

Cemanapun Twitter lebih sebagai sosial dan bukan media massa.

Ini mungkin lebih urusan istilah. Mungkin tak ada yang pernah membayangkan perkembangan Facebook, Twitter, atau Instagram yang terbukti amat pesat. Media yang awalnya untuk saling sapa antar kawan atau kenalan, berkembang untuk segala macam: kampanye politik (pastilah masih teringat #shameonyousby), iklan (berapa banyak status: “mau menghemat pulsa?”), berita (yakinlah Anda makin sering dapat berita terbaru dari Facebook atau Twitter) atau kabar kegiatan sehari-hari (“puas, habis gowes 50km,” misalnya maupun “baru beli Orchard Ice Bread di Bandung.”).

Kira-kira samalah isinya dengan TV, koran, radio –yang pertama kali didefiniskan sebagai media massa.

Bedanya adalah –ciri kedua media massa- tidak personal. Agak tak jelas siapa sebenarnya yang menyampaikan pesan. Walau ada presenter, kolumnis, atau wartawan yang terkenal dan ditunggu-tunggu (ganti tokoh sebentar, seperti Najwa Shihab) jelas bukan dia satu-satunya di media tersebut. Macam-macam orang di sana, laki-perempuan, menarik-membosankan-biasa.
Yang berikut, sifatnya serentak. Memang dengan teknologi digital, ada TV dan radio yang sudah bisa ditonton atau didengar kapan saja. Pada masanya, pilihannya nonton saat ini atau lewat. Titik.

Tak bisa –kayak Twitter- nanti sajalah awak baca karena pas tak ada sambungan internet pulak dan toh ciut Tifatul masih akan ada di sana. Tak bisa karena harus duduk dan nonton detik ini juga (teknologi untuk nonton Mata Najwa di Youtube belum ada).

Sama juga dengan koran: sekarang atau nggak. Walau tidak sedisiplin penonton TV dan pendengar radio, abang-abang tukang koran mengantar koran subuh-subuh agar puluhan sampai ratusan ribu bapak dan ibu membacanya sambil sarapan pagi. Sedang abang-abang menjual koran di dekat lampu merah supaya puluhan maupun ratusan ribu mas dan mbak membacanya di mobil atau di KRL. (Ya ada juga yang baru jam lima sore baca koran pagi, kemungkinan besar karena dapat lepasan koran tak laku dari abang loper koran… 🙂

Dan satu lagi: sifatnya searah. Ada surat pembaca, ada telepon pemirsa, cuma kalau dilihat dari total penyampaian pesan, jelas yang amat dominan adalah searah. Dari satu pihak –lembaga atau perusahaan- ke sejumlah banyak orang.

Tak ada cerita kalau pemirsa Salam Canda di RCTI yang dipandu mendiang Kang Ebed Kadarusman (ganti tokoh sikit dan ini jaman dulu kali sebenarnya) di Payakumbuh menyela “Kang Ebed, jangan ngejek kalilah…” Untuk menyampaikan komentar itu maka Ajo di Payakumbuh harus bayar telepon interlokal –itu pun diterima sama operator yang pasti kesal: “Cemananya kau, orang dia lagi siaran mau cakap sama dia pulak kau.”) atau kirim lewat surat (yang pakai perangko, belum ada email) dan sampai dua tiga hari lagi ketika Kang Ebed sudah cakap-cakap sama orang lain.

Itu kan zaman dulu….

Ya memang, makanya seri ini judulnya pake Dinosorus abad 20. Jelebau juga kau. Kau tengoklah dulu apa itu Dinosorus (sempatkan juga cari di Google apa artinya jelebau!).
Tapi oklah, sabar awak sikit.

Kisah zaman dulu perlu untuk melihat cemana sebenarnya perkembangan media dari dulu sampai sekarang (masih ingat kan judulnya Menjadi Wartawan, Dulu dan Sekarang) supaya kelak ada gambaran bahwa kerjaan wartawan berubah tapi tak berarti prinsip-prinsip kerja yang lama dilupakan.

Menutup seri ini: media massa memerlukan wartawan (ups… jurnalis) untuk mencapai sejumlah besar orang secara bersamaan dengan sifat searah.

Dan Seri 3 akan membahas beberapa teori massa. Sok-sok teorilah sikit.
***

Baca Seri jurnalistik dalam file pdf