Tentang Penulis Edisi 49

Sanie B. Kuncoro, dulu sering menulis di mjalah remaja dan perempan, pernah bekerja di Bali dan sekarang kembali ke Solo. Pulung Ciptoaji, wartawan dan kerap menulis cerpen. Selma Hayek, pegiat OXFAM di Dili yang sedang belajar di Inggris. Syam Asinar Radjam, anak Palembang ini menulis novel Smaradina Muda Mangin di Bogor.

MORE
Dokter Zhivago 49

Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960. Sekali lagi mereka berbaring di bangku tidur depan kedua ujung jendela yang sangat panjang itu; hari telah malam dan mereka becakap-cakap. Zhivago bercerita pada Gordon, bagaimana ia pada suatu hari bertemu Tsar di medan perang. Waktu itu adalah musim semi pertama yang dialami […]

MORE
Smaradina Muda Mangin

Syam Asinar Radjam DUADua kali, ini yang kedua, menurut pengakuan Mangin. Dia terkondisi mengingat perempuan selain Emak, Kelawai, dan keponakannya yang sedang lucu-lucunya. Memaksa sekali perasaan yang teramat sering muncul tanpa diundang. Dan setiap melihat sorot matanya Mangin merasa jantung berdegup. Runtuhnya WTC di New York, atau patah satu sisi Pentagon pun mungkin tak mampu […]

MORE
Bendera

Pulung Ciptoaji Sudah berapa lama, aku sudah lupa. Pada kekangan tali bendera untuk berkibar di angkasa. Entah, mungkin hitungan ketukan telah berubah tempo, sehingga tali tarikan semakin kencang, dipercepat. Ataukah bendera telah terlalu ringan karena terlalu sering tertiup angin. Beban masa telah berkurang sehingga semakin tipis melayang di udara. Bahkan mungkin saja tangkai bingkaian sudah […]

MORE
Dokter Zhivago 49

Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo),disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960Sekali lagi mereka berbaring di bangku tidur depan kedua ujung jendela yang sangat panjang itu; hari telah malam dan mereka becakap-cakap. Zhivago bercerita pada Gordon, bagaimana ia pada suatu hari bertemu Tsar di medan perang. Waktu itu adalah musim semi pertama yang dialami Yuri dalam […]

MORE
Smaradina Muda Mangin

Syam Asinar RadjamDua kali, ini yang kedua, menurut pengakuan Mangin. Dia terkondisi mengingat perempuan selain Emak, Kelawai, dan keponakannya yang sedang lucu-lucunya. Memaksa sekali perasaan yang teramat sering muncul tanpa diundang. Dan setiap melihat sorot matanya Mangin merasa jantung berdegup. Runtuhnya WTC di New York, atau patah satu sisi Pentagon pun mungkin tak mampu membuatnya […]

MORE
Bendera

Pulung CiptoajiSudah berapa lama, aku sudah lupa. Pada kekangan tali bendera untuk berkibar di angkasa. Entah, mungkin hitungan ketukan telah berubah tempo, sehingga tali tarikan semakin kencang, dipercepat. Ataukah bendera telah terlalu ringan karena terlalu sering tertiup angin. Beban masa telah berkurang sehingga semakin tipis melayang di udara. Bahkan mungkin saja tangkai bingkaian sudah berbeda […]

MORE
Kemerdekaan Tak Membisukan Memori

Selma Hayek Tia…Tia…Apakah pasukan pencabut nyawa itu benar-benar telah pergi?Aku masih dengar desingan peluru itu..Aku masih dengar!! masih!Derap..iya, derap lars pencabut nyawa itu masih melewati jalan depan rumah kita!! masih! Tia…Tia…Masih ingatkah kau ketika mereka menyiramkan api di kulitku?Panasnya masih kurasakan,Sengaja kubiarkan…dan kunikmati. Dan Tia…Tia-ku yang hampir rapuh,Perih penuh matakuMengalirkan air di wajahku, tak bisa […]

MORE
Kemerdekan Tak Membisukan Memori

Selma HayekTia…Tia…Apakah pasukan pencabut nyawa itu benar-benar telah pergi?Aku masih dengar desingan peluru itu..Aku masih dengar!! masih!Derap..iya, derap lars pencabut nyawa itu masih melewati jalan depan rumah kita!! masih!selengkapnya

MORE
Teman-teman Kuta, Sebelum Bom

Sanie B. KuncoroTuris Spanyol cenderung pelit. Favorit kami turis Jepang, kalau berbelanja membeli barang yang sama dalam jumlah besar. Misalnya sumpit 100 pasang atau puluhan book mark. Turis Eropa biasanya lebih pendiam tapi ramah. Lain lagi orang India. Mereka bisa dibedakan antara India perantauan dan India asli dari sononya. India perantauan cenderung rendah hati dan […]

MORE