Penulis edisi 220

Limantina Sihaloho pengajar Teologi , pernah sekolah satu tahun untuk dialog antar keyakinan di Hartford Seminary, AS (twitter @limantina) TranzCuk Riomandha pegiat seni dan pendukung Liverpool yang tinggal di Sleman (http://jeancuk.multiply.com) Chairil Anwar (1922-1949) pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan […]

MORE
Aku, Dingis, dan Sawah

Limantina Sihaloho Saya baru pulang dari jalan-jalan pagi dari sawah dengan adikku, si Dingis Phea Phea. Saya telah mengadopsi anjingku yang baik hati menjadi adikku. Kalau saya ke luar rumah, dia tahu saya akan ke mana dari jenis pakaian yang saya kenakan. Kalau berpakaian bagus dan saya mengeluarkan sepeda, dia tahu saya akan ke kota […]

MORE
Pak Presiden, Petani menunggu janjimu

Limantina Sihaloho Desa saya, Urung Panei, terletak di kaki Gunung Simarjarunjung, Sumatera Utara. Jalan raya melilit melintasi pinggang gunung ini dan sisi baratnya berpanorama indah. Di bawah sana Danau Toba dengan jejeran Bukit Barisannya memanjang di kejauhan. Sebelum krisis keuangan menimpa Indonesia Ttahun 1997, saban hari bis-bis pariwisata ukuran besar dan kecil, yang membawa turis-turis […]

MORE
Tentang Penulis Edisi 129

M. Arpan Rachman, anak Palembang yang sedang belajar menulis cerpen. Beberapa cerpennya diterbitkan di beberapa media di Sumatera. Gatot Arifianto, Freelance Editor PT. Karya SET Film. Lahir Purworejo, menggagas berdirinya GUGATS (Paguyuban Jagat Seni Sawunggalih Kutoarjo), dan tahun 2005 menyutradarai film indy Kembang Gula Rembulan. Limantina Sihaloho, pengajar Teologi di Medan

MORE
Feminis Ngetop dari Jakarta

Limantina Sihaloho Apakah kau kenal perempuan itu? Ia seorang feminis sepertimu. Pertama kali saya bertemu dengannya tanggal 12 April 2006 yang lalu, di rumah orang tua Jamil. Ia datang; adek bungsu Jamil mengalami kecelakaan sehari sebelumnya. Jamil dan adek laki-lakinya yang biasa nyetir mobil, pergi ke bandara. Perempuan itu minta dijemput. Mereka baru tiba di […]

MORE
Fatima

Limantina Sihaloho Malam itu, awal Oktober 2005, aku membukakan pintu. Hatiku berdebar-debar. Kusambut rombongan Bang Kabel dengan senyum gemetar yang berusaha kusembunyikan. Ia rupanya hanya datang bertiga. Aku sudah kenal dengan kedua lelaki yang menemaninya, Brem dan Deniel. Tidak dengan Ibunya. Aku sedikit kecewa sebab aku lebih suka kalau Ibunya ikut malam itu, untuk melamarku […]

MORE
Fatima

Limantina Sihaloho Malam itu, awal Oktober 2005, aku membukakan pintu. Hatiku berdebar-debar. Kusambut rombongan Bang Kabel dengan senyum gemetar yang berusaha kusembunyikan. Ia rupanya hanya datang bertiga. Aku sudah kenal dengan kedua lelaki yang menemaninya, Brem dan Deniel. Tidak dengan Ibunya. Aku sedikit kecewa sebab aku lebih suka kalau Ibunya ikut malam itu, untuk melamarku […]

MORE