Penulis edisi 220

Limantina Sihaloho pengajar Teologi , pernah sekolah satu tahun untuk dialog antar keyakinan di Hartford Seminary, AS (twitter @limantina)

TranzCuk Riomandha pegiat seni dan pendukung Liverpool yang tinggal di Sleman (http://jeancuk.multiply.com)

Chairil Anwar (1922-1949) pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas dua MULO ke Jakarta, tempat ia hidup dan kemudian meninggal pada usia 27 tahun. Diapun ada menulis esai dan menterjemahkan karya-karya sastra dunia, baik puisi maupun prosa. Ia menterjemahkan sajak-sajak Marie Rilke, Edward du Perron, dan cerita karya Ernest Hemingway dan Andre Gide. Meskipun kemudian beberapa karya dinyatakan plagiat, tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia tetap diakui orang.

Toto Sudarto Bachtiar (lahir 1929) Mendapat hadiah sastra nasional pada tahun 1955-1956 untuk puisi. Sajak-sajaknya dibukukan dalam Suara(1956) dan Etsa (1958). Ia ada juga menulis esai dan karangan-karangan lain tetapi lebih terkenal sebagai penterjemah. Ia menterjemahkan Ernest Hemingway, Anton Chekov, William Saroyan, Maria Rilke, J . Slauerhoff, Ryonosuke Akutagawa, dan lain-lain. Beberapa cerita pendek terjemahannya telah terbit dengan judul Bunglon (1964). Ia terkenal karena sajaknya Ibukota Senja tentang Jakarta, yang ditulisnya tahun 1951. Meskipun ia kini tidak lagi tinggal di Jakarta, tetapi kota yang selalu dinyanyikannya dalam sajak-sajaknya adalah Jakarta, di mana ia pernah tinggal beberapa tahun lamanya. 


__________________________________

pencerita

Leave A Comment