W.S. Rendra (1955) Djakarta Dalam Puisi Indonesia
Bulan telah pingsan
di atas kota Jakarta
tapi tak seorang menatapnya!
o, getirnya kulit limau
o, betapa lunglainya
Bulan telah pingsan
Mama, bulan telah pingsan
Mensukuk tikaman beracun
dari lampu-lampu kota Djakarta
dan gedung-gedung tua tak bedarah
berpaling dari bundanya
Bulannya! Bulannya!
Jamur bundar kedinginan
bocah pucat tanpa mainan
pesta tanpa bunga
o, kurindu nafas gaib
o, kurindu sihir mata langit
Bulan merambat-rambat
Mama, betapa sepi dan sendirinya!
begitu mati nafas tabuh-tabuhan
maka penari pejamkan mata-matanya
Bulan telah pingsat
dio atas kota Djakarta
tai tak seorang menatapnya
Bulanku! Bulanku!
Tidurlah, sayang di hatiku!
***