Berita tentang Anwar Ibrahim sekarang-sekarang ini tidak lagi seramai dulu, dan tekanan-tekanan yang ia hadapi juga tak lagi memancing aksi-aksi turun ke jalan. Padahal Anwar sedang bergelut melawan gangguan kesehatan. Seorang dokter spesialis dari kawasan Eropa –yang setelah perdebatan panjang dengan istri dan pengacara Anwar akhirnya diijinkan juga memeriksa Anwar– menyimpulkan Anwar perlu berobat ke luar Malaysia, tapi pemerintah Mahathir Mohammad menegaskan fasilitas kesehatan di Malaysia sudah cukup. Anwar Ibrahim, yang pernah disebut-sebut putra mahkota Mahathir, terpuruk sendirian di ruang selnya. Sakit-sakitan.

Tapi sebenarnya Anwar berhasil juga menabur benih-benih perlawanan, paling tidak Mahathir semakin meningkatkan tekanannya. Mahathir masuk ke stadium paranoid yang lebih akut. Kini, penahanan maupun intimidasi terhadap tokoh-tokoh oposisi Malaysia telah menjadi bagian dari kehidupan Malaysia. Dan awalnya adalah gerakan reformasi yang dilancarkan mantan Wakil Perdana Menteri Anwar Ibrahim Oktober 1998. Sejak itu, kalangan oposisi menjadi sasaran penguasa. Anwar sendiri dalam satu jurus didakwa dengan 10 tuduhan sekaligus, dari yang serius sampai sodomi.

Orang terbaru yang menerima intimidasi adalah Mohamad Ezam Mohamad Noor, mantan sekretaris politik Anwar. Menjelang Idul Adha tangga; 5 Maret lalu ia dijemput polisi karena dituduh menghasut masyarakat. Pasalnya, Ezam pernah mengatakan akan mengajak para pendukungnya turun ke jalan melancar tuntutan rakyat ala Filipina yang menjatuhkan Presiden Joseph Estrada.

Pekan lalu Ezzam dibebaskan dengan uang jaminan. Ia mengakui intimidasi penguasa langsund diarahkan pada dirinya, yang dilakukan dengan cara menangkapnya sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Dan itu baginya sudah merupakan siksaan tersendiri, namun ia bertekad tidak akan mundur.

Bagaimanapun langkah oposisi untuk mereformasi sistem politik Malaysia –yang dengan gigih diperjuangkan oleh Partai Islam Se-Malaysia (PAS), Partai Rakyat Malaysia atau Partai Keadilan Nasional– sedang berada dalam periode paling sulit dan penuh dengan ketidakpastian. Setidaknya ada empat hambatan utama bagi reformasi Malaysia.

Empat kondisi itu tidaklah mudah bagi kubu oposisi yang terpecah belah. Anwar yang tidak berdaya di penjara mendorong semakin terjalnya bukit yang harus dilalui oposisi untuk sampai kepada tujuannya. Gerakan oposisi yang berpusat di kota-kota besar tidak sampai menyentuh lapisan masyarakat bawah. Rakyat Malaysia sudah kenyang makan. Oleh sebab itu, seruan oposisi untuk menjatuhkan Mahathir itu tidak -atau sebutlah belum-terlalu kuat gemanya.

Jadi darimana perubahan akan datang ? Akankah oposisi Malaysia kelak mendapat kesempatan naik ke panggung kekuasaan seperti di Indonesia sekarang. Jawaban yang paling mudah –dan sudah menjadi bagian dari pendapat kalangan pakar politik– perubahan akan datang apabila Mahathir meninggal.

Tahun 1997 lalu, Dekan Fakultas Sosial, Kemasyarakatan dan Kemanusiaan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Prof Dr Shamsul Amri Baharudin pernah menyebutkan Anwar Ibrahim akan naik menggantikan Mahathir bila perdana menteri itu meninggal. Namun kalau perdana menteri masih hidup ceritanya akan lain. Mahathir sampai sekarang masih sehat walafiat, dan akibatnya perjalanan sejarah Malaysia menjadi berbeda.

Perubahan akan datang pula apabila kelas menengah Malaysia sudah mendapat tekanan yang merugikan dari perilaku ekonomi dan politik Mahathir. Tanda-tanda itu cukup signifikan dikalangan intelektual, pengusaha muda dan kalangan agamawan. Jumlah mereka memang tidak begitu besar, tetapi menjadi inti penggerak yang penting. Jadi dalam proses penyadaran politik ini, kalangan perkotaan mendapatkan akses lebih mudah terhadap situasi politik sesungguhnya. Tidaklah mengherankan apabila Mahathir tidak mau berkompromi dengan lubernya informasi dari oposisi kedalam masyarakat.

Contoh konkrit adalah Surat kabar Harakah, yang dikhususkan beredar hanya untuk anggota partai segera dilarang beredar. Alasannya, tiras Harakah mencapi 300.000 per minggunya; sebuah loncatan yang jauh sekali mengingat koran mingguan ini seelumnya hanya bertiras di bawah 10.000 eksemplar.

Peluang lainnya bisa muncul apabila koalisi Barisan Nasional bubar karena kepemimpinan UMNO tidak lagi memberikan harapan. Kongres UMNO tahun lalu, misalnya, dikritik kalangan muda UMNO karena masih menampilkan wajah-wajah lama. Jadi jika UMNO melemah, bisa saja koalisi baru terbentuk dimana Partai Keadilan Nasional naik menggantikan Barisan Nasional, dengan isi partai yang berbeda. Atau malah sebagian partai pendukung Barisan Nasional sekarang menyeberang kepada platform baru.

Dari obrolan singkat saya dengan Ezam yang masih berusia 30-an itu, jelas bisa dirasakan kalau penguasa Malaysia tidak mau lagi memberikan angin sedikitpun untuk kalangan oposisi agar bisa berkembang. Segala cara dilakukan, mulai dengan ancaman, intimidasi sampai penahanan yang tampaknya makin memperburuk posisi kalangan oposisi. Namun demikian tidak berarti kalau masa depan oposisi berhenti. Simpati dari sebagian kalangan masyarakat mungkin sedang berkembang, sejalan dengan bertambahnya usia gerakan reformasi. Meski Anwar dipenjara, benih yang ditaburkannya sepertinya berkembang sehingga menakutkan Mahathir Mohammad. Dan penguasa yang paranoid adalah penguasa yang lemah.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *