Dieqy Hasby Widhana
kau daki gelombang risau
kala mentari terlalu ranum melahirkan silau
sekolah anak,
gizi kedua bayi,
hutang membiak,
tunggakan listrik,
dan sebagainya,
dan
menumpuk sesak aliran darah
pencarian upah layak selalu melemparmu jauh ke pundi sesal
lalu kau seret kedua bangkai sandal busukmu
menyusuri kemarau kota sembari mengibarkan tangan kanan yang terlentang
hatimu bernama dataran yang bergumul sesak jerami
rapuh berbunga resah
resonansi gersang lirih memuntahkan sesal,
“jika nanti anakku tumbuh besar
semoga mereka tak putus asa menimang cemooh
dari ribuan temannya,
kelak”
Jember, 27032011