salahkah aku mengejar asap rimba secepat kupasrahkan nafas masa depan keluarga
pada pundak terkaman bus ini
kutumpahkan segala amarah hingga anakku tak hanya berhenti mendadak
di bangku sekolah dasar
kaca spion itu selalu mengingatkanku pada masa lalu
ini pilihan lain menambal lubang derita
di persimpangan kutabrak kijang plat merah
salahkah aku menabrakmu,
yang dengan mudahnya
meredam masalah besar bagiku
sedangkan dia, yang kau sebut sebagai pengingat terdekatku
yang membuat kesabaran terkelupas dan besi rasaku semakin memerah
bukankah kau tau
aku pun tak akan bisa terbang hanya dengan
sebelah sayap derita
maka restuilah aku sebagaimana nama
bukankah aku pemungut yang paling rajin
***