Bambang Saswanda Harahap

Aku tidak memaksamu untuk menggemetarkan bibir sujud kepada angin yang tajam yang harus kau tahu Kita adalah bagian yang terpasung dari musim yang tak pernah kita pinta lekaslah bangkit banyak di jalanan cahaya matahari yang gratis untuk kita tanak menunggu kiamat.

Semusim
Aku tak kenal musim semi
sebelum merasa bibirmu yang basah
kaulah yang ajarkan gerak kaku ini menjadi cerita tentang cinta lembut penuh sambut
: kemudian ketika awan tak serupa warna, jarum meninggalkan pukul angka, di atas pemakaman, kurayu engkau dengan doa.

Detak
Di dada siapa rindu itu menerjemah
pungutlah, aku ingin mendengar detaknya
***
Medan, Oktober 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *