Mari Menghukum Politisi


Liston P Siregar

Hasil pemilihan umum Inggris yang tidak menghasilkan pemenang mayoritas -walau dalam beberapa hari kemudian bisa melahirkan perdana menteri- adalah akibat dari keraguan para pemilih. Tapi juga bisa dilihat sebagai hukuman, mereka tidak mau memilih Partai Buruh karena merasa dikecewakan, tapi juga tidak percaya pada Konservatif, apalagi Liberal Demokrat. Partisipasi yang rendah, 65% atau cuma naik 4% dari tingkat rendah 2005, juga dilihat sebagai hukuman dari pemilih.

Tapi siapa saja para terhukum itu? Banyak.

Salah seorang adalah Lembit Opik dari Partai Liberal Demokrat, yang masuk ke Westminster tahun 1997. Namanya juga dikenal karena urusan non-politik: berpacaran dengan salah seorang dari duet pop “sampah” Cheeky Girl (sampah? Ya lihatlah di YouTube). Foto mereka berdua di Rumania muncul di majalah Hello, ketika pacarnya operasi pembesaran payudara. Beberapa bulan setelah mengumumkan pertunangan, keduanya putus. Sebelumnya Opik bertunangan dengan pembawa acara ramalan cuaca ITV, tapi setahun berikutnya putus.

Dia juga menantang larangan Segways -kereta listrik roda dua- di tempat umum dengan mengenderainya selama lima menit di luar Gedung Parlemen menantang “ayo kalau berani tangkap saya.”

Setelah pasti kalah di wilayah pemilihannya, Opik ditanya apakah karena faktor Cheeky Girl? “Anda bisa menggunakan asumsi itu, yang jelas saya kecewa kalah dari Partai Konservatif.” jawabnya.

Ketika muncul jadi berita, karena pacaran dengan salah seorang Cheeky Girl, para anggota Liberal Demokrat diminta pendapatnya. Mereka umumnya mengatakan saatnya politisi juga berkarakter seperti Lembit Opik. Tapi pemilih berpendapat lain.

Yang kedua adalah Jacqui Smith, setelah tiga belas tahun menjadi anggota parlemen dan perempuan pertama yang menjabat menteri dalam negeri Inggris. “Hal yang baik untuk ikut serta dalam pemilihan umum ini karena anda takut kalah dan berharap menang,” katanya dengan wajah dan suara yang ditegar-tegarkan setelah kalah dari calon Partai Konservatif.

Dosa utama Nyonya Smith adalah klaim tunjangan. Dia mengklaim biaya tinggal di London kalau harus menghadiri sidang parlemen sebesar £ 116.000 padahal numpang di rumah kakaknya. Akhir 2008 terungkap suaminya yang menulis serangkaian surat ke beberapa surat kabar memuji kerja Jacqui Smith, tapi ketika menulis puji-pujian itu, dia tidak menyebut sebagai suami Nyonya Smith. Suaminya ini pulalah yang menyewa video porno, dan ongkos sewanya diklaim oleh Smith.

Menyewa video porno -di Inggris dan di banyak belahan bumi lain- adalah urusan orang per orang yang tak perlu dinilai secara normatif. Urusan masing-masinglah, tapi menyewa video porno dan meminta bayaran dari anggaran parlemen jelas tidak bisa diterima. Jacqui Smith sudah pisah dengan suaminya, dan dia menegaskan tidak melanggar hukum karena tunjangan parlemen memang disediakan untuknya. Tapi pemilih yakin kelakukan dia dan suaminya –yang jelas diketahuinya secara sadar- sudah berlebihan.

Contoh lainnya, George Galloway dari Partai Respect. Tahun 2005 dia berhasil mengalahkan calon Partai Buruh di daerah pemilihan Inggris timur: Bethnal & Bow, yang banyak penduduk asal Asia Selatan. Dengan jualan anti perang Irak, Galloway berhasil menang mudah, dan dia pun ingin memperluas kejayaan dengan pindah ke wilayah pemilihan lain yang juga banyak kaum pendatang: Poplar & Limehouse. Tapi dia terlalu yakin dan lupa pepatah lama “lebih baik satu burung di tangan daripada dua burung di atas pohon.” Dia kalah di wilayah pemilihan baru, dan calon penggantinya di wilayah lama juga kalah.

Galloway mungkin bisa disebut politisi berkarakter yang berpengalaman: sudah jadi anggota parlemen sejak 1987. Menggelar kampanye dengan bis terbuka berkelililing London yang diiringi musik berdentang dam dum dam, menghisap cerutu, dan punya acara talk show di radio, Galloway sepertinya yakin dia pasti akan menang. Nyatanya bukan hanya kalah dari Partai Buruh, tapi berada di urutan ketiga di bawah Partai Konservatif, yang sama sekali tak populer di kawasan pemukiman London Timur yang banyak kaum pendatang.

Sebagai anggota parlemen Partai Buruh, Galloway menjadi bola liar yang tidak terkendali. Pria asal Skotlandia menjadi Wakil Presiden Koalisi Hentikan Perang dan terang-terangan mengujat George Bush dan Tony Blair yang melancarkan perang Irak. Dia mengatakan keduanya menipu tentara Inggris dan menyebut pemerintahan Blair adalah mesin penipu. Di bawah pimpinan Tony Blair, Partai Buruh kemudian mengeluarkannya.

Tapi namanya justru meroket di kalangan kelompok anti perang Irak dan di bawah Partai Respect, Galloway justru menjatuhkan calon dari Partai Buruh.

Sebelumnya dia bikin pusing karena menghadiri sebuah konperensi di Yunani dan secara terbuka mengaku banyak bertemu dengan perempuan Yunani. Secara terbuka pula dia mengatakan melakukan hubungan seksual dengan beberapa perempuan Yunani itu dan Komite Partai Buruh di wilayah pemilihan menyatakan mosi tidak percaya, namun dia selamat juga dan terpilih kembali.

Sebagai anggota parlemen dari Partai Buruh, Galloway juga tampil di program TV, Big Brother, serta belasan acara TV lain, dari yang serius maupun yang tak karu-karuan. Dia sepertinya yakin bahwa karakternya laku keras di daerah London timur yang manapun. Keyakinan yang ditolak mentah-mentah oleh para pemilih.

Pemilu memang bukan hanya untuk memilih calon dukungan tapi juga untuk menghukum politisi yang tidak memenuhi janjinya, yang sok percaya diri, yang lebih sibuk sama dirinya sendiri, maupun yang main-main dengan lobang peraturan.

Di Indonesia, saat pemilu 1997 sempat muncul gagasan ABS atau Asal Bukan Suharto sambil mengangkat-angkat Megawati Soekarnoputri. Cuma boro-boro menghukum Suharto saat berkuasa -atau Harmoko yang memimpin Partai Golkar- karena ketika keduanya sudah tidak berkuasa saja terbukti tidak bisa dihukum. Suharto demikian kuat, dan tak bisa dihukum lewat pemilu maupun pengadilan.

Tahun 2004, gagasan ABS diimprovisasi menjadi ABM: Asal Bukan Mega. Setelah Gus Dur jatuh, Megawati –yang ketika kampanye menggunakan pendekatan wong cilik- ternyata mengecewakan para pendukungnya. Bahkan tak ada niat serius dari pemerintahan Mega untuk mengusut tuntas peristiwa Penyerbuan Kantor PDI-P di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat tanggal 27 Juli 1996.

Dan dalam pemilu 2009, Megawati dengan PDI-Perjuangan maupun Jusuf Kalla dengan Golkar masih kena hukum oleh para pemilih. Suara kedua partai terbesar dalam pemilu 2004, menurun 4% sampai 6% saat pemilu 2009.

Jadi pemilih Indonesia juga sudah mulai menghukum politisi, dan masih ada waktu 4 tahun bagi pemilih untuk menimbang-nimbang apakah Partai Demokrat juga perlu dihukum atau tidak. Tapi memang saatnya pemilu jadi momen untuk menghukum politisi.
***