kau paksa kejantananku melingga sewaktu malam diam-diam selinapkan sepi di kegelisahan ujung rambutku. hujan yang kau panggil sore tadi, deras, selimuti keakraban jemari berpagut tanpa menanggalkan dogma yang bermukim di jiwa. tetapi tak harus kita tertawa alpa kalau mentari berdecak kagum di balik mendung yang kasmaran estetika rambutmu atau ketika elra peri kebijaksanaan datang membawa seikat bintang takjub pada keberdayaan kita menghalau birahi yang hendak mendaratkan kita pada lubuk busuk.di bulan, kekasih, alam mencatat nilai keseganan kita terhadap tuhan, sesungguhnya
*** Nusantara, 2000