Pada sudut istal yang rapuh bumi ratapi hitam nasibnya
dibiarkan nazar di atas jerami lunglai membiru
tanpa hiasan kafan walau sehelai. Sementara
harimau menyaksikan dari balik sayap belalang
Kuda hitam meringkik, bersimpuh, cumbui kaki bumi
“siapa ayah bayi perut bumi?”
Pada keranjang seutas tali ia menyapa
Bilamana halilintar membelai punggung langit
bahasa bahasi bungkam membiarkan gulma berlari pergi
tinggalkan keloid pada wajah bumi memar berkarat
“Di mana bulan?” parade bintang ayunkan seribu langkah
membiarkan gugusannya berantakan semrawut
Letusan gunung menjadi jawaban
Bumi mendekap bayinya
Bulan selimuti bumi membiarkan darah lumuri tubuhnya
Bayi perut bumi menyeringai begitu perkasa melebihi kuda hitam!
“Biarkan bayimu menyantap lahar ataupun magma”
bisik rembulan mengurai rambut bumi
Bayi perut bumi mengaum kembangkan sayap dan
terbanglah ia jelajahi zenith-zenith malam
Mencari kedamaian atas nasib bumi
***Nusantara, 2006