*Siska dan Ridna Kekasihku

Setiap waktu engkau terdiam lalu tersenyum. Semburat sudut matamu mengabadikan gelombang rasa dari waktu purba. Luka yang tertahan. Kepedihan yang tersembunyi jauh di dasar lubuk hati yang tak seorang pun mampu menyelaminya. Di situ gerhana terus menjelma. Kata-kata dan senyum itu riuh mengalir selayak hujan salju dan telah menjelma kedok. Seperti angin yang tak bertepi, terus berpendar berusaha melupakan jejak, begitulah sayat yang terurai.

Setiap sudut menara tak mampu menampung geliat selaksa puisi malam dan entah sampai kapan engkau akan menipu diri dalam urai panas bergelora. Meracaki maut dan aroma badai. Melumatkan bau kebencian di jalan-jalan, di sudut temaram lampu-lampu jalan dan di bias tirai malam pertama saat menamatkan masa lajangmu.

Duduklah di sudut bias embun pagi. Bersikaplah jujur dan terbuka. Mengapa sepertinya engkau harus lari dari waktu purba dan membiarkan bayang-bayang itu terus memburumu. Melukisi harianmu dengan rasa suram tertahan adalah membiarkan setiap gegas keindahan lewat begitu saja dari hadapanmu. Setiap orang punya masa lalu. Setiap jejak yang tertinggal telah menemukan jalannya sendiri. Lembaran waktu purba adalah titik-titik hitam dan putih; gelap dan terang. Tak ada jalan yang menuju rumahmu tanpa kelokan karena setiap sembunyi telah memiliki jawaban.
2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *