Gendhotwukir

Masuklah, ridna! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu. Kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang tak akan pernah mengerti makna perjalanan ini. Biarlah orang-orang menebar badai lalu menguncinya di daun pintu. Amarah yang kau pendam tak akan menebarkan segerombolan penari dari selatan. Deburnya akan tetap mendarat di kening dan pada kata-kata yang bercabang seperti lidah ular.

Selayak musim yang terus berganti, kata-kata akan berubah seiring baju yang berganti dalam hitungan waktu dan hari. Mengertilah bahwa setiap kali ada titik hitam pada lembaran kain kafan yang putih itu. Kenangkanlah perjalanan ke depan. Setiap jejak selalu tertinggal di belakang punggung. Harapan selalu datang dan terpenuhi, atau kadang pergi juga bersama kawanan bangau menuju matahari terbenam.

Seusai keinginan yang tergapai, ada langkah ke depan. Setiap jejak yang tertinggal tak jarang meninggalkan amarah dan dendam. Tapi, masuklah segera ke dalam! Di luar hanya ada gempuran amarah. Duduklah di tungku ini dan bakarlah dendam dan amarah itu di baranya. Setiap kebusukan telah mendapatkan tempatnya dalam genangan angkara murka, entah kapan datangnya. Setiap kebohongan yang terungkap akan didatangi seribu pedang yang akan menghujamnya dan membawanya sampai ke kematian. Terkutuk sampai keturunanya.  Duduklah segera di sisiku, kenangkan timangan ibumu yang tak akan pernah kau gadaikan itu.
2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *