Jalan yang aku lewati
terlanjur tak terhitung jauhnya
dari desa ke desa
dari terminal ke terminal
dari kota ke kota
Waktu yang kutempuh
terlanjur tak tercatat lamanya
dari jam ke jam
dari hari ke hari
dari tahun ke tahun
Tapi tak kutemukan juga rumahku di mana
Yang aku lihat selalu saja jalan-jalan retak berdebu
Dan wajah-wajah yang terasing Juga mulut-mulut yang
lapar
Seolah tiada lagi tawa yang bisa kulihat
Seolah tiada lagi pohon untuk berteduh
(Solo-Jogja-Surabaya, 1994-2002)