Bungarumputliar
Kupu-kupu sayap lembut itu melayang diam-diam diantara dedaunan tua kuning layu. Tak ada lagi yang baru, keluhnya. Tak ada lagi yang cukup membuatnya tinggal lebih lama. Ia mengeluh. Bosan, katanya.
Kupu-kupu sayap lembut itu terbang kian mengawang, tak lagi hanya diantara dedaunan, tapi diantara roti dan kue di atas meja. Anak-anak sedang menikmati makan siangnya. Hap! Melesat jari-jari…
Kupu-kupu sayap lembut yang tak mengerti. Ia lekat berekat dalam tapak tangan penuh saus tomat. Dadanya sesak. Semua nanar berputar. Dimana aku? Keluhnya bisu. Tak ada yang melenturkan bibir baginya.
Lalu nyeri itu. Sayap-sayap meregang luar biasa tak terlukis kata. Kupu-kupu berpeluh. Ada beban di kepalanya. Kunang-kunang berubah gelap.
Hampir saja kau bunuh kupu-kupu! Kata satu suara. Suara yang lebih berat dari yang lebih dulu di dengarnya. Suara yang terdengar hangat diantara halilintar seruan meriang-riang. Hampir saja kau bunuh kupu-kupu! Serunya lagi. Sekali lagi dan lagi dan kali ini diikuti getaran membebas-merdekakan. Nyeri di punggungnya kini lebih mirip sakit hati.
Salahku, ayah? Salahku? Seharusnya ia tak terbang diantara roti dan kueku, seharusnya ia terbang diantara bunga dan dedaunan kuning itu. Salahku ayah? Ia yang menabrak telapak tanganku!
Kupu-kupu kini lekat di atas taplak meja bergambar bunga. Sama sekali tak layu lagi beraroma mentega. Ia getarkan sayap kaki mencoba terbang lagi. Gagal. Selembar daun lebar kuning layu melayang sudah ke atas tubuhnya. Ia dan saus tomat. Daun layu yang dibencinya…
(LeBul 14 Oktober 2005)