Gendhotwukir
Yang terbuang dari kawanana
bergerak menjilati sisa atasan
atasan adalah kesombongan yang tak ada dilawan
yang tertindas oleh keangkuhan
terjejal teror sosial, ekonomi bahkan keamanan
yang terpinggirkan rentan makan
lalu apa katamu?
“Kehinaan adalah jalanku. Memangku panji Ratu..
Hangar-bingar tiada sajak syahdu yang lantas mendagu menahu.
Siapakah dirimu? DEBU.
Karena hanya debu yang terbang terburu karena malu.
Berhadapan dengan hina, laju memburu layu.”
Yang terkarat dalam ilmu
Gaduh dengan hidup menggancu
Disaksikan istri, anak, menantu bahkan cucu
Apa katamu?
“Keteladanan adalah ilmu
Ilmu berjuang nanti restu
Setia tetap Saturday ku tulak ilmu otak membeku
Mau tahu agar tahu, bukan tahu berhenti terpaku.”
Yang terjerembab dalam ganas bau
Ternista karma kau mau
Bercengkrama ceria memegang roh ayu
Apa katamu?
“Ku tahu arti. Namamu tak tertempat dalam harianku
karena sesungguhnya ceriamu adalah dukaku
jauh tersesat dari hakekat jiwa sejak lalu
menghiasi raga melupa makna kehadiranmu
ternista adalah kemekaran kembang-kembang di masa depan.”
yang malu menyebut jabatan ibu
tersipu memuja muju kehormatan itu
meski kau mampu
Apa katamu?
“Ah, itu dugamu! Siang malam kuseru harum ibu
karena ibu adalah dewiku
ku tak khan terima ibumu pengganti ibuku
karena ajarkan apa ibumu kepadaku?
menjelang malamku kudoa ibu yang slalu menuntunku, menjagaku, merawatku
karena kutahu seberapa dayaku
kau yang beribu, kenapa menyia puja demi cahya mahkota ibu?”
yang terbirit dikejar Praja
gerah udara di bawah gubug renta tanpa jendela
merancang angan-angan belaka
meski tiada tergapai di fajar tiba
Apa katamu?
“Cinta adalah menggapai angan-angan tertuju belaka
luka-luka adalah kepingan cinta, meski tak tergapai cinta yang terkaya
cinta menjadi kerdil tatkala menolak menjadi meluka
tengoklah ke gudang luka-luka. Cucup manisnya luka-luka cinta
nada-nada luka melodikan cinta bergema.”
yang terbelakang dari angkatan
meski sesungguhnya mampu berkata kebesaran dari angkatan
menundukkan kehormatan dalam perputaran zaman
Apa katamu?
“Kerendahan-hatian adalah nafas kehormatan
memangku tugas mulia sebagai ciptaan
bersumpah setya pada janji Junjungan,
meski raga ditikam nafsu-nafsu zaman
yang tak kebanyakan orang mampu bertahan.”
Yang sampah adalah jiwa terjunjung Junjungan.
170403