: Ayi Antoko Ratri
Gatot Arifianto
Lintang lintang di malam Papua
Meneteskan liur binarung jakun lift-eskalator
atau lengan bermain barbel natkala vibrasi kafahmu
tektonik mengabarkan garis pedang kalifah lewat keberangkatan kereta
sungguh adalah niscaya
Selain ghaib khilaf pun tolol cemeti
derap dan derap biadabku dari kemarau ke hujan
Gedunggedung gendut rencana
jahil tengil sehingga munafik maha tengik yang menyempurnakan bacin
urine selusin lorong
Asyiknya ramerame invansi tanah tua dan papa kita untuk Cordoba
atau mungkin Karbala
Penawaran kota silih berganti
Cemas, pening, dan genting geliat laknat buldoser
menggusur damai kaki lima yang mini
: Impian, ajari ruhku mematahkan jarum jam untukNya!
Hanya dan hanya terjaga Wibisana
Tak ayal, pada bayang mata Simamu yang menjanjikan Babilonia Harun Al Rasyid
kutabuh khianat sekaligus munajat dengan melankoli polifonik
sebelum kaki menginjak Senin yang dingin
Jalaran luka dan luka tak pernah mempu menjelma headline kematian presiden