Hery Sudiyono
ia ingin tinggal sebentar
tanpa batuk melerai, tanpa
“selamat pagi kereta”
di alun-alun bising akan cepat reda
kepada malam yang jemu
oleh tiang pancang.
ingatan bergegas lewat,
serbuk-serbuk merunduk pada udara
di kota bernama lupa seorang menggelar tikar
kepada ziarah dari hutan yang resah
menitipkan epitaph di antara tanda seru
yang koyak
ia ingin tinggal sebentar, sebelum,
ah, tak apa