yang telah lupa, kembali
menyalakan api di bibir tebing.
rajawali takjim
dan kau disihir sebercak darah
yang bertahan di lumut waktu

“lengking itu seperti pernah kukenal”
ingatan cepat lindap, darah menorehkan razah di kulit dadamu.
sebuah nama, betapa tidak sederhana
kau mendidih, meracau, rubuh,
unggun lalu beku
menjadi relic yang tekun bercerita kepada kafilah
-tentang arah barat daya

situs
perlahan kaupun luruh
pada satu-satunya tembok tua
yang juga tak lagi utuh.
tafsir lumut dan endap air yang berkarat,
tak ada yang terungkap –sepanjang relief
yang saling menindih, fragmen yang tanggal

perlahan kaupun larut dan melingkar
lalu terbaca; henig yang tak hendak hadir
yang terus mengalir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *