Di bibirku garam dan pasir samudra
akupun menyanyi
terbang Garuda
di udara Jawa Tengah
meninggalkan pantai Bali
Yogya tujuan hari ini
karena aku rindu
dank arena rinduku kini
rindu sejarah bangsa
tanpa pemali
Kunyanyikan tanah air
kunyanyinya cinta alam
sawah-sawah dan desa-desa.
Ya peradaban dan sejarah
dunia yang satu
panorama manusia
dari ketinggian atas Yogya
Udara bening dan hijau
pantulan sawah-ladang
permadani abadi
desa-desa ribuan tahun
Kunyanyikan lagu setia
tempaan derita dan bahagia
dari lumpur tanah purba
yang menjiwai batu-batu
cinta tua
sejarah Yogya 45
Di tengah puing zaman
mencerminkan hidup kekal
serta sehari-hari
di wajah penghuni desa
ibu kandung peradaban kita
Di bibirku masih
garam dan pasir
pantai Samudra Bali
Sebentar aku mendarat pula
di tanah subur Yogya
Singgah sehari
melaksanakan ziarah
serta tapa
di Imogiri hatiku
kubawa jalan di hirup pikuk
Malioboro
Bayang sempurna
candi-candi
Lalu aku menyanyi
lagu sehar-hari
manusia bertanah-air
di dunia rohani
kebangsaanku
***
Sitor Situmorang, Penyair kelahiran Samosir, Tapanuli, dan bekerja sebagai wartawan di Medan. Pernah ditahan Belanda di Wirogunan sebelum bekerja di KBRI Paris dan pernah menjadi anggota MPRS sebagai wakil seniman.
*. Puisi ini disalin dari buku kumpulan puisi Angin Danau