Burung Teluk (Familia Sternidae) – Joni Hendri

Seekor burung putih,
memanggil dari arah teluk tempat aku dikutuk
memanggul lekuk yang ia bentuk
sebelum menjadi ikan terubuk
yang menyerang dari ceruk bunyi.

Diam-diam ia kerap mengikuti sampan
ia terbang di atas kepala
sebab, pulang ke pangkuan
sesuatu yang terkurung dalam dada
sesak oleh kata-kata:
“Pulang ke gelanggang
pada jalan yang sungsang.”

Burung Teluk,
tiap petang merayau mencari bakau
mencari mangsa pada laut
memangsa ikan yang sedang girang.

Maka, Teluk itu memanggil-manggil 
pada cahaya petang yang merah
hidupnya terasa renta disumpah waktu
mematahkan jantung tak bertulang
dan demamnya mengingat rindu
ke alam terbang.
***
Pekanbaru 2019

Nenek

1.
“Nenek belum tidur?” Tanyaku

Matanya terbuka
gelisah pada malam
menunggu untuk terpejam
hanya bisa menacapkan percakapan.

Amuk angin, berbisik pada jendela
dingin bersetubuh pada kulit
pada gelap yang disebut malam
Nenek tidur selamanya.

2. 
Kata Nenek:
“Senja merah, menyerupai darah!”
Aku ketakutan.

Kata Nenek:
“Ada pertumpahan darah dalam sejarah!”

Aku bingung,
saat gelap mulai bermain dengan bintang
dan bulan padam, diam
***
Pekanbaru 2020

Hutan Sialang

Hujan gugur dari atas langit,
tempat tangis itu keluar
kasih telah menghitamkan awannya 
membasahi ke dalam hutan sialang.

Kenderaan berwarna merah melaju
lewat sela-sela ranting gugur
menyerupai manusia:
“Itukah perusak?”
***
Penyalai 2020

Joni Hendri, kelahiran Teluk Dalam, Pelalawan, Riau. Alumnus AKMR Jurusan Teater. Karya-karya berupa cerpen, puisi dan naskah drama, sudah dimuat di beberapa media seperti, Kompas id, Solo Pos, Medan Pos, Tanjung Pinang Pos, Pontianak Pos dan media online lainya. Kini bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau dan anggota Komite Teater Dewan Kesenian Kota Pekanbaru (DKKP). Sekarang menjadi Mahasiswa FIB UNILAK Jurusan Sastra Indonesia.