Rumah Nyi Sawo, si penyihir yang berada di tengah hutan, roboh. Entah ulah siapa. Rumah kayu beratap rumbia dengan dua jendela dan tanpa pintu belakang itu berdiri di antara bukit-bukit Silia. Di sana tak ada siapa pun kecuali pohon besar dan binatang liar. Kabarnya, Nyi Sawo menghilang sebelum rumahnya roboh dan itu membuat warga Dukuh Sisila lega.

Penduduk Dukuh Sisila dibuat takut dengan penampilan Nyi Sawo. Ia kadang mengetuk pintu tengah malam hanya meminta minum, kadang tiba-tiba muncul di belakang petani yang sedang membajak tanah, dan yang tak terkira ketika suaranya terdengar oleh warga namun wujudnya tidak ada. Kabarnya, ia menjaga pohon- pohon di hutan dari jamahan tangan tak bertanggung jawab.

Jika kau ke hutan, kau akan melihat pohon terbesar di sana, dan berada tepat di samping rumah Nyi Sawo.

Namun perlu kau tahu tentang Nyi Sawo. Ia bukanlah penyihir seperti yang kau pikirkan. Ia masih muda, cantik, rambut hitam, memiliki betis yang putih. Tapi seperti penyihir lain, ia tidak suka merias, tidak suka berganti pakaian, atau sekedar mandi pun ia tidak pernah. Ia hanya memakai baju hitam panjang dengan sobekan di tengah seperti jas panjang, dengan kerah keras, dan sebuah topi kerucut. Ia tidak memiliki tongkat. Tapi ia memiliki kantong berisi benih. Kabarnya, ketika pergi ia selalu membawa kantong itu dan setelah lima puluh meter dari rumahnya, ia menaburkan satu-tiga benih sawo.

Rumah Nyi Sawo jarang dilewati warga. Kalaupun ada, hanya binatang liar yang sedang mencari makan. Tapi setelah rumahnya roboh dan Nyi Sawo menghilang, banyak warga masuk hutan, menebang, juga membuat jalan menuju Bukit Silia. Tentu mereka berhasil membangun sebuah jalan yang menghubungkan Dukuh Sisila dengan Bukit Silia: impian yang sudah lama dipendam.

Setelah terbukanya jalan menuju hutan dan Bukit Silia, warga senang hati pergi ke sana untuk mencari kayu bakar dan buah. Jika punya waktu mereka berjalan-jalan sebentar mencari rempah atau sekedar melihat-lihat. Di balik Bukit Silia kau akan bertemu kota kecil bernama Shila. Jika kau ingin ke sana kau harus lewati Bukit Silia atau kalau tidak, harus memutari bukit Silia sehingga jaraknya lebih jauh.

Seperti sudah digariskan, pelan-pelan orang memperpanjang jalan sampai Kota Shila. Di sana, di kota kecil Shila terdapat pasar yang jadi perhatian warga Sisila. Sebab di pasar itu warga Sisila boleh menjual dagangan. Mereka pun boleh membeli, atau barter. Warga Sisila tidak menyadari bahwa jalan yang sekarang mereka lewati dulunya adalah rumah Nyi Sawo, dan tepat di sampingnya terdapat pohon terbesar di hutan.

Para petani yang lewat di sana tidak menyadari adanya anak pohon yang tumbuh di jalan, mereka melewati layaknya kereta yang melintas tak terhentikan di atas rel yang licin. Ibu-ibu selepas dari pasar hanya berdiri membelakangi, kemudian mengambil buah cabai di dekat sana.

Ketika malam tiba, ketika semua warga terbuai mimpi, anak pohon bergerak ke kanan ke kiri, tanahnya bergoyang, dan batangnya sedikit memanjang. Terdengar suara tapak kaki, tapi tak ada siapa-siapa. Angin menderu dari arah selatan, dahan pohon terbesar bergoyang kencang, suara tapak kaki terdengar samar-samar lalu disambut guntur. Tiba-tiba saja hujan turun: alam seperti ikut berkomplot.

Anjing hutan menyalak disambut suara hujan deras. Jalan menuju Kota Shila tertutup oleh dahan-dahan pohon yang jatuh. Terdengar lagi kecipuk tapak kaki sepanjang jalan ke Kota Shila. Dua pohon jati dan satu pohon sawo jatuh menutup jalan. Sehingga warga tidak bisa pergi ke Kota Shila kecuali berputar atau menyingkirkan pohon yang tumbang.

Siang itu pun mereka semua bergotong royong memotong pohon jati dengan gergaji mesin dan menarik keluar potongannya dari jalan. Anak-anak melihat dari kejauhan dan menjagokan bapak masing-masing. Di sebelah anak-anak, para perempuan menyiapkan makan siang.

Siang itu hutan menjadi pasar bebas. Beberapa penjual yang sudah sampai di sana membuka dagangannya, tetapi tidak seramai di Kota Shila. Sebab sebagian penjual telah pulang dan memilih memancing atau memasak.

Di pasar bebas itu pulalah terdengar kabar bahwa Nyi Sawo ada di Mekah. Seorang TKW mengirimkan foto Nyi Sawo. Tapi usai difoto, tiba-tiba Nyi Sawo menghilang. TKW itu tidak pernah lagi melihatnya. Kabar tentang Nyi Sawo makin beredar cepat dan makin banyak versi.

Ada yang bilang bisa saja Nyi Sawo sudah mati di tiang gantung, tetapi sebagian warga kampung menyebarkan versi lain, bahwa Nyi Sawo berubah menjadi angin, walau sekelompok yakin berubah menjadi ulat, dan beberapa warga mengatakan Nyi Sawo berubah jadi kupu-kupu. Ada banyak lagi versi yang mungkin dan tak mungkin.

Tetapi ada pula yang percaya bahwa Nyi Sawo belum mati. Ia seorang penyihir. “Dan apa kau tahu?” tanya orang itu, “bahwa pohon terbesar di hutan ini karena siapa? Tentu karena sihir Nyi Sawo!”

Tidak mungkin pohon biasa tumbuh sebesar itu, kecuali berumur ratusan tahun. Itu pun masih mungkin. Sebab di dunia hanya ada satu-dua pohon terbesar. Tidak semua.
***

Esok harinya dua pohon jati dan dua pohon sawo tumbang dan jatuh tepat menutup jalan. Anehnya terdapat jejak kaki di setiap pohon tumbang. Ukurannya kecil dan tak biasa, dengan garis panjang di atas tiga lingkaran kecil. Awalnya warga tidak melihat jejak kaki itu, sebab ukurannya yang kecil dan juga karena mereka selalu terburu-buru. Tapi tanpa sengaja seorang anak kecil melihat bintik- bintik pada potongan kayu dari pohon tumbang yang ia bawa pulang ke rumahnya. Semakin ia lihat, tampaklah jejak kaki kecil. Sangat kecil.

Ia berikan kayu itu pada bapaknya, dan mereka mulai mencari potongan-potongan kayu yang lain, dan ternyata benar, selalu ada tanda yang serupa: bintik-bintik membentuk jejak kaci kecil.

Hal yang terjadi barusan dua kali dengan dua dan empat pohon, kemudian berulang: besok, lusa, besok lagi, lusa lagi, pekan depan, pekan depan lagi. Pohon jati dan sawo lagi. Warga terjaga sehingga membuat gardu pos di dekat jalan. Mereka pun mulai bergantian berjaga, tapi toh tetap ada pohon yang tumbang.

“Kenapa pohon-pohon ini terus-terusan tumbang?” tanya satu warga.
“Apa mungkin ini ulah Nyi Sawo?”
“Kalau ini ulahnya, emang untuk apa? Ia sudah mati kok dan tak mungkin hidup
lagi,” sambung warga lain.
“Siapa bilang ia sudah mati,” tantang seorang warga.
“Sepertinya tak ada jalan selain ronda.”
“Iya, tak ada jalan lain,” putus mereka semua.

Maka malam itu, sembilan warga mulai meronda. Sembilan warga dibagi menjadi masing-masing dua peronda untuk empat kelompok. Mereka berkeliling Bukit Silia, Dukuh Sisila dan Kota Shila. Dari sembilan tersisa satu, dan ia menjaga gardu sendirian.

Malam berlalu dan pada sembilan menit selepas jam dua subuh, warga yang bertugas di gardu sendirian mendengar kasak-kusuk di belakangnya. Ia mengarahkan senter pada pepohonan asal suara tadi dan hanya tampak daun-daun berjatuhan. Ia sorotkan lebih ke atas, tetapi tidak menemukan apa pun. Namun tiba-tiba ia mendengar langkah seseorang. Setelah menoleh, ia tidak menemukan siapa pun.

Hari ke-3 meronda, sudah dua yang berdiam di gardu. Keduanya memang tidak menemukan apapun kecuali mendengar suara tapak seseorang. Dan sebelum berita ini sampai ke Dukuh Sisila, sepuluh peronda menetapkan untuk mengubur pendengaran dan tak perlu lagi meronda. Mereka tidak mendapatkan apa pun selain kantuk dan penasaran yang tambah pesat.

Dan pohon-pohon terus tumbang, dari hari ke hari, dari malam ke malam. Anehnya hutan tak pernah gundul dan tumbuh lebat seperti tak terjadi sesuatu. Seperti tak ada penumbangan, apalagi penebangan.            

Warga berhenti bertanya, setelah lebih dulu berhenti meronda. Jalan menuju kota Shila terputus, juga jalan ke Dukuh Sisila. Tumpukan pohon menghalangi jalan dan menjadi sarang binatang. Jalan itu seperti tak ada, sama seperti dahulu ketika belum ada.

Kini semua warga bisa mendengar tapak kaki tanpa melihat apapun. Ada yang tetap percaya Nyi Sawo belum mati walau ada yang tetap yakin Nyi Sawo sudah mati. Tapi semua sepakat: mati atau tidak, Nyi Sawo akan selalu hidup bersama hutan, bersama Bukit Silia, bersama mereka.
***
Kutub, 29 02 2020-24 12 2020

Fahrul Rozi, lahir di Bekasi. Tukang cuci piring di PPM Hasyim Asya’ari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *