Catatan, edisi 386 Januari 2025

Langit pagi Kupang yang mulai tampak indah pada pukul enam pagi WITA di awal November 2024 menyambut langkah kaki pertamaku di Nusa Tenggara Timur. Bersih, segar -begitulah kesanku saat menghirup udara di Bandar Udara El-Tari, Kupang. Jumat itu, hari pertama November, mengawali Mission Trip Komisi PI dan Guru SM GKI Pondok Indah di GMIT Jemaat Ebenhaezer Oefau, Mollo Selatan di Nusa Tenggara Timur.

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil lahan kering di wilayah tenggara Indonesia. Seluruhnya hampir 1.200 pulau dan hanya sebagian kecil -tak sampai 50 pulau- yang berpenghuni, seperti Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Adonara, Solor, Komodo dan Palue.

Kota Soe, yang menjadi tujuan kami, merupakan ibukota dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sekitar 110 km dari Kupang atau dua setengah jam perjalanan mobil. Karena cuaca di kota ini jauh lebih dingin dibanding kota-kota lainnya di Pulau Timor, maka Soe sering disebut ‘The Freezing City’ atau ‘Kota Membeku’ meskipun ketika aku tiba sepertinya sebutan itu tak terlalu tepat. Memang hawa malam memang terasa agak lebih dingin, tapi pada siang hari, sengatan matahari tetap menunjukkan keperkasaannya.

Aku datang ke Soe untuk Mission Trip atau perjalanan untuk berbagi kasih oleh sekelompok individu atau organisasi kepada sesama umat manusia yang membutuhkan ungkapan kasih. Biasanya mereka tinggal di daerah terpencil atau kawasan yang baru dihantam bencana alam. Biasanya pula, Mission Trip berwujud pada penyaluran bantuan kebutuhan sehari-hari maupun obat-obatan, penyampaian kotbah, dan layanan pendidikan. Mission Trip kami kali ini terdiri dari 15 orang yang dibagi menjadi dua kelompok: mendukung guru-guru sekolah minggu di GMIT Jemaat Ebenhaezer dan membantu para penenun dan peternak. Aku masuk kelompok pendamping penenun dan peternak.

Para perempuan penenun di Soe biasanya bekerja secara tradisional, yang membutuhkan keterampilan dan ketelitian tinggi, jadi bukan mengandalkan mesin tenun. Tenun ikat asal Soe merupakan produk ekonomi penting bagi masyarakat dengan mengandalkan para perempuan yang menenun di sela-sela kegiatan harian lainnya. Biasanya siang hari para perempuan Soe ikut membantu kerja di sawah atau ladang dan baru menenun ketika malam hari. Artinya, para perempuan Soe tak pernah berhenti bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka -syukur-syukur jadi mampu menggapai mimpi yang jelas bukan tergolong mimpi yang amat tinggi di awang-awang sana.

Mimpi para perempuan pekerja keras di Soe, antara lain, agar kelak bisa mendukung anak-anak mereka menjadi pegawai negeri beseragam. Itulah salah satu mimpi yang akan membanggakan ‘Mama-mama’ penopang utama keluarga yang bekerja keras di Soe sepanjang hari.

Kerja keras kaum perempuan itu sudah melekat sebagai tradisi yang diwariskan ke generasi-generasi berikut, termasuk menenun. Setiap anak perempuan Soe diharapkan mampu menenun, setidaknya membuat selimut berbahan tenun ikat yang kelak akan diberikan kepada calon suami sebagai lambang kasih dan kesiapan untuk membangun rumah tangga. Tak berarti laki-laki di Soe tak punya urusan untuk menopang kehidupan keluarga. Para suami memimpin kerja sehari-hari dalam pertanian -baik ubi, jagung, dan berbagai sayuran- maupun peternakan ayam, sapi, atau kambing.

Aku rencananya mendapat kesempatan untuk membantu -lebih tepatnya ‘belajar’- dari para peternak ayam bersama Pak Ayub Timu, salah seorang pemilik peternakan ayam asal Sabu Raijua, yang juga menjadi penyuluh dan pendamping para peternak ayam lainnya yang masih membutuhkan dukungan. Mereka adalah para peternak ayam yang masuk dalam kelompok binaan GMIT Jemmat Ebenhazer dan GKI Pondok Indah. Pagi itu Pak Ayub baru datang dari Sabu di Pulau Raijua bergegas demi mendampingi Mission Trip kami.

Sialnya, kedatanganku ke Soe malah setelah usainya panen ternak ayam sehingga kami hanya berkunjung ke dua kandang ayam yang kosong selepas panen. Bagaimanapun banyak cerita dari Pak Ayub Timu. Permintaan ayam sebenarnya cukup besar dari NTT dan luar daerah, namun selama ini terkendala oleh tidak lancarnya distribusi dan pembayaran sehingga menggerus keuntungan yang bakal diperoleh petani. Semisal, harusnya ayam dipanen hari ini namun terpaksa mundur beberapa minggu lagi. Jadi mereka harus memberi makanan ternak lagi sepanjang beberapa minggu tersebut.

Cerita lainnya adalah tentang para peternak ayam yang setiap minggu menyisihkan 10 telur ayam kampung untuk dinerika kepada kaum ibu yang hamil, ibu yang sedang menyusui, serta anak-anak berusia dua tahun ke bawah. Tujuannya adalah agar bayi dan anak kelak bebas stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan di bawah standar. Dan stunting merupakan masalah serius di Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan rasio 37 hingga 38 dari 100 balita menderita stunting, menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023.

Bukan hanya sekedar peternakan ayam yang kudengar dan kunikmati dari Pak Ayub Timu. Pagi hari pertama pertemuan kami, dia membuat jus yang terbuat dari buah jambu mete, yang diyakini mengandung enzim, mineral, dan vitamin yang lebih tinggi dari buah-buah lainnya. Jus jambu mete ini juga bisa membuat daging ayam atau babi, menjadi terasa lebih enak dan dapat meningkatkan kualitas daging, baik dari segi tekstur, kandungan lemak, maupun kadar nutrisi. Sayang aku tak sempat membuktikan dan sekaligus menikmati daging yang dimasak dengan jus jambut mete itu. Tapi kegunaan utama jus mete adalah sebagai tambahan minuman untuk ternak ayam. Diberikan secara berkala, dua hingga tiga kali seminggu, jus mete ini dicampur dengan air minum dan pakan untuk menghindari efek berlebih.

Pak Ayub Timu juga membawa garam Sabu Raijua, yang merupakan produk tradisional asli Pulau Raijua. Diperkirakan potensi produksi garam Sabut Raijua bisa mencapai 300.000 ton per tahun walau jelas produksi saat ini jauh di bawah potensi yang diharapkan. Garam Sabu Raijua disebut mengandung 98,23% Natrium Klorida (NaCl) yang masuk dalam golongan kualitas garam kelas dunia.

Satu lagi yang dibawa Pak Ayub Timu adalah gula lontar yang diproses dari nira Pohon Lontar, yang tumbuh subur di kawasan Nusa Tenggara Timur. Peran Pohon Lontar sebagai penghasil gula lontar, yang menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat, membuat phon itu mendapat gelar ‘Pohon Kehidupan’. Untuk urusan gula lontar ini, aku memang membuktikan dan menikmatinya langsung: teh jeruk nipis yang disuguhkan terasa lebih enak ketika mendapat tambahan gula lontar.

Pembuktian tentang makanan enak juga diupayakan oleh ‘Mama-mama’ jemaat GMIT Jemaat Ebenhaezer, yang menyuguhkan jagung rebus, sup, ayam goreng, maupun sei babi atau daging babi asap yang merupakan sajian khas Nusa Tenggara Timur. Sup-nya bukan cuma lezat, juga unik karena merupakan campuran jagung, kacang hijau, dan kacang tanah yang disebut Jagung Bose, yang merupakan makanan tradisional NTT.

This image has an empty alt attribute; its file name is 11-1024x576.jpg

Sebelum Mission Trip berakhir, kami bertemu dengan sekitar 400 anak dan remaja yang hampir semuanya bersuara kencang dan penuh semangat jika menjawab pertanyaan apa pun. Cita-cita mereka bukan lagi terbatas pada mimpi ‘Mama-mama’ penenun namun melompat jauh dan tinggi dari ‘pagar’ pegawai negeri berseragan, entah itu dokter, tentara, polisi, atau guru.

Sepanjang pertemuan, aku duduk bersama Cia, Sany, dan Chisya yang riang dengan senyum bersahabat. Kami baru bertemu pertama kali dan mungkin pertemuan satu-satunya namun kurasakan semangat mereka yang sepertinya terinspirasi dari keinginan untuk membahagiakan orang tua dan berperan dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat sekitar. Amat terasa pula bahwa semangat mereka bersumber dari keyakinan pada sumber kehidupan manusia satu-satunya yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa. Sering kudengar ketaatan beragama masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Mission Trip yang kuikuti ke Soe membuktikan yang hanya kudengar selama ini.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, kami menginap semalam di Kupang dan sempat kusaksikan matahari terbenam di Pantai Lasiana: bersinar emas, indah, dan kuat pula. Petang itu, aku terkenang kembali pada Cia, Sany, dan Chisya serta 400 anak-anak Soe lainnya. Dan kukumandangkan doa di dalam hatiku: semoga suatu hari nanti mereka semua menjadi cahaya yang menerangi sekitarnya.
***

Widyawati Puspita Dewi sering dipanggil Dada, tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai Konsultan Marketing Komunikasi. Tulisannya sejak 1984, telah dimuat di majalah Anita Cemerlang, Aneka, Ceria, Mitra, Idola, Gadis, Femina, dan sejumlah media lainnya. Buku karya bersamanya antara lain ’24 Sauh, Kumpulan Karya Penulis Tinta Wanita’, ‘Cinta Gugat, Kitab Antologi Puisi Jilid 2 Sastra Reboan’, ‘Karya Anak Bangsa’, ‘8 Bahasa Cinta’, ‘Where We Cross and Diverge, Di Mana Kita Bertemu dan Bersilang Langkah’ serta ,Indonesia Kami, Sehimpun Reportase’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *