Kandahar Yang Film Iran – Listo P Siregar

Hafat habis-habisan membujuk dua dokter perempuan di kem Palang Merah untuk sepasang kaki palsu. Di kem itu, di padang pasir di luar kota Kandahar, sekitar 30 pasien menunggu kedatangan kaki palsu, dan sebagian –yang sudah mendapat kaki palsu- mengeluh kaki palsunya tidak cocok sampai mereka tidak bisa tidur siang dan malam menahan sakit. Hafat awalnya […]

Tentang Penulis Edisi 11

Maria Pakpahan, anak antropologi UGM yang menjadi pegiat perempuan dan mengambil program MA Development Studies ke Institute of Social Studies, Belanda. Mengaktifkan LSM Tjoet Njak Dien dengan perhatian pda pembantu rumah tangga. Sekarang sedang mengambil Msc by Research on Englightenment di University of Edinburgh, Skotlandia.Liston Siregar, tamat dari Universitas Diponegoro masuk Tempo sampai dibredel dan sekarang bekerja […]

Masjid Biru – Liston P Siregar

Cerpen Dengarkan penuturan suaranya di Difalitera: https://difalitera.org/cerpen-masjid-biru/ ”Hallo, siapa namamu anak manis”, tanya seorang anak muda sambil berjongkok memegang tangan Juang yang duduk kecapaian di kursi dorong. Waktu itu kami sedang berjalan menuju Masjid Biru, usai menikmati kemegahan Aya Sofia di pusat kota kuno Istambul. Kami cuma tersenyum dingin, dan meneruskan perjalanan, sedang Juang bengong […]

Tentang Penulis Edisi 26

Liston Siregar, tamat dari Universitas Diponegoro masuk Tempo sampai dibredel dan sekarang bekerja di BBC Siaran Indonesia. Sutrisno Budiharto, aslinya Wonogiri dan sempat kuliah di Yogyakarta tapi belum rampung sudah bergabung dengan Kedaulatan Rakyat, pindah ke Harian Surya, dan sekarang di Radar Solo. Pernah dihajar massa Golkar di Solo. Bramantyo Prijosusilo, pegiat seni instalasi asal […]

Tentang Penulis Edisi 23

Liston Siregar, tamat dari Universitas Diponegoro masuk Tempo sampai dibredel dan sekarang bekerja di BBC Siaran Indonesia. Sitok Srengenge, kini ikut mengelola jurnal kebudayaan Kalam. Kumpulan tiga antologi puisinya yang terbaru sudah diterbitkan ; Kelenjar Bekisar Jantan, Anak Jadah, dan Nonsens. Aktif membantu AJI waktu pembredelan Tempo, Detik dan Editor di jaman Suharto dulu. Sekarang sedang […]

Cina-nya Indonesia – Liston P Siregar

Waktu masih SD di Medan, masa awal 1970-an, Mamak punya tukang jahit langganan. Orang Cina tua berkaca-mata tebal dan selalu pakai celana piyama garis-garis biru tua. Kadang dia pakai baju piyama juga, tapi lebih sering pakai kaus kutang putih, yang kalau diingat-ingat lagi sekarang aku yakin merk Swan. Tokonya di Kampung Keling –namanya memang Kampung […]

Tentang Orang Biasa – Liston P Siregar

Dua jam lima puluh tiga menit ; tanpa jagoan, tanpa tembakan atau dentingan pedang, juga tanpa adegan cinta. Itulah Yi Yi-nya Edward Yang. Dan Nigel Andrews, penulis budaya di Harian Financial Times memutuskan Yi Yi sebagai film terbaik tahun 2001, walaupun waktu menulisnya baru tanggal 5 April 2001. ”Jangan pedulikan 270 hari yang tersisa, mungkin […]

Tentang Penulis Edisi 13

Liston Siregar, tamat dari Universitas Diponegoro masuk Tempo sampai dibredel dan sekarang bekerja di BBC Siaran Indonesia. Lenah Susianty setelah tamat dari Unviersitas Krisnten Indonesia sempat bekerja di The Jakarta Post dan masuk ke BBC Siaran Indonesia sampai Tahun 1999. Masih tinggal di London bersama putranya, dan baru saja pulang dari Indonesia mengenalkan putranya dengan Sukabumi. Sanie B. Kuncoro, dulu sering […]

Pelajaran Hugo Chavez – Liston P Siregar

Situasinya tipikal negara pra-demokrasi yang sebenarnya kaya, atau antara lain seperti Indonesia di jaman Orde Baru. Semua pengusaha yang berhasil pasti berbau KKN, tukang suap, dan pembungkam pekerja, lantas semua pejabat negara di segala tingkatan maupun politisi dari semua partai pasti korup. Ketidak-percayaan berlaku timbal balik. Kelas menengah selalu dalam keadaan ketakutan menghadapi ancaman masyarakat […]

Rudi Singgih dan Indonesia – Liston P Siregar

Rudi Singgih mungkin sama sekali tidak berarti apa-apa, apalagi ketika banyak orang Indonesia sedang bingung apakah politisi Jakarta akan mengganti Presiden atau tidak. Nama Rudi Singgih hanya pernah tercantum di masthead Majalah Tempo –dulu sebelum dibredel–, di dekrasi Sirnagalih pendirian AJI tahun 1994 lalu, dan sekarang di sebuah batu nisan di pekuburan umum di Bandung. […]