Rudi Singgih dan Indonesia – Liston P Siregar

Rudi Singgih mungkin sama sekali tidak berarti apa-apa, apalagi ketika banyak orang Indonesia sedang bingung apakah politisi Jakarta akan mengganti Presiden atau tidak. Nama Rudi Singgih hanya pernah tercantum di masthead Majalah Tempo –dulu sebelum dibredel–, di dekrasi Sirnagalih pendirian AJI tahun 1994 lalu, dan sekarang di sebuah batu nisan di pekuburan umum di Bandung. […]

Dari Negeri Dingin Buat Megawati – Maria Pakpahan

Ibu Megawati ,Seperti kita semua saksikan, dengar ; situasi pertarungan kekuasaan berkaitan dengan tampuk kepresidenan di tanah air sekarang menjadi terbuka ,frontal dan kasat mata dengan adanya partai oposisi, demonstrasi, pembentukan opini publik dengan berbagai cara, dan macam-macam lainnya. Saat ini tataran pertarungan diperlebar dengan dimunculkan nama Ibu yang nyata-nyata Wakil Presiden untuk menjadi kandidat […]

Kuda Enterprise – Muhammad Uzer

Pagi sekali, Herman datang ke rumahku. Wajahnya cerah. Di tangannya ada map hijau. Aku langsung mencium bau penting, atau paling tidak serius. Tanpa basa-basi ia usulkan sebuah ide baru. Yang tadinya terasa penting, atau serius, langsung menjadi sedikit gila, menurutku. Menurutnya? Ide cemerlang. “Sebentar Man, duduklah dulu. Mau kopi atau te?”“Sudahlah, tak perlu repot-repot,” jawab […]

Manusia Modern Berlangit Banyak – Yusuf Arifin

Karena manusia mengerti akan simbol dan hidup dalam dunia simbol maka ia berbeda dengan binatang, begitu kira-kira kata Ernst Cassirer puluhan tahun silam. Manusia menciptakan aksara untuk menyimbolkan bunyi. Manusia menciptakan bahasa untuk menciptakan dan menyimbolkan realita. Manusia menciptakan norma sopan santun berkehidupan, dan juga nilai benar salah, untuk menjaga kelangsungan hidup. Dan wajah lengkap […]

Dokter Zhivago 10 – Boris Pasternak (alih bahasa Trisno Sumardjo)

disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960, dengan penulisan ejaan baru ”Ibu adalah, apa namanya…… Dia dan ibu….. Ah kata-kata kotor! Aku tak mau menyebutnya. Tapi mengapa dilihatnya aku dengan cara begitu? Aku ini anak ibu, bukan?” Lara baru melampaui enam belas tahun, namun tubuhnya sama sekali sudah dewasa. Orang menyangka umurnya delapan belas tahun atau […]

Tentang Penulis Edisi 10

Bambang Widjajanto seorang pegiat Hak Asasi Manusia yang pernah bergiat di Irian Jaya dan belakangan menjadi Ketua YLBHI di Jakarta. Sedang menempuh pendidikan program Master di School of Oriental and African Studies SOAS, London. John Aksiman sudah jadi pegiat masalah tanah sejak masih mahasiswa di Institut Pertanian, pernah jadi wartawan, terus pegiat kebebasan pers, sempat aktif di partai […]

Ketika Rasa Cemas Musnah – John Aksiman

Fajar baru saja menyingsing. Gadis itu merapikan ranselnya. Tak lupa, dia masukkan odol dan sikat gigi. Lalu sebotol air mineral dan handuk kecil. Ia tampak bersiap betul menghadapi hari yang mungkin akan sulit diduga. Maklum, ia hendak mengikuti demonstrasi. Dalam usia 20 tahun, gadis ini telah belajar banyak tentang kekerasan aparat Mahathir Mohamad. Berkali-kali, ia […]

Perubahan Konstitusi dan Demokrasi – Bambang Widjajanto

Setengah abad lalu, ketika banyak bangsa melepaskan diri dari penjajahan, konstitusi dimaknai sebagai hukum dasar yang memberikan dasar identitas dan legitimasi baru bagi sang penguasa baru. Satu-dua dekade belakangan ini, konstitusi –bagi negara yang baru menumbangkan rezim diktator dari bangsanya sendiri– dimaknai sebagai era baru menuju sistem kekuasaan yang demokratis. Tapi nampaknya, jalan yang tengah […]

Sepakbola Betapa Indahnya – T Widjaja

Para lelaki kekasih istri dan ibuku bermain sepakbola. Ritual malam dan suhu penciptaan Tuhan baru. Rumput tumbuh di pahaku dan seseorang menebasnya. Bola mengelinding dan jala robek. Penonton marah. Tapi bukan kepada pemilik klub yang lidahnya menjulur ke buah dada televisi. Aku sudah tahu dan tak mungkin kalah. Lemparan botol air mineral, nyanyian serupa Indonesia Raya, […]