senja
senjasesuatu sekejap lengang,dan kaupun risikdengan warna-warna kirmiji maka kelammaka kelam akan pulang kepada mataharidi manaiatiada***
Penulis Edisi 152
Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. T. Wijaya M. bin Bachtiar, pegiat seni dan jurnalis di Palembang.
Krupuk dan Pemerintah
Presiden Hayat Most people are about as happy as they make their minds to be – Abraham Lincoln Belum terlalu sore, tapi hujan sudah mengurung kampung kami. Lampu-lampu tempel tak kuasa mengusir dingin. TV hitam putih menggeriap, tak berdaya di kotak kayunya kehabisan aki. Di sudut-sudut dinding cicak menggigil mengintai mangsa. Hujan selalu membiakkan lapar […]
13 Abad dan Sriwijaya Bangkit Lagi
T. Wijaya bin M. Bachtiar 13 buat sebagian orang adalah angka sial atau tidak beruntung. Tapi, bagi masyarakat Sumatra Selatan angka itu sangat beruntung. Pada tahun ke-3 kelahiran Sriwijaya FC, klub ini menjadi juara Piala Copa Dji Sam Soe ke-3, lalu menjadi juara Liga Indonesia ke-13, dan dipimpin oleh Gubernur Sumatra Selatan ke-13 –Syahrial Oesman– […]
kafilah 2
di perigi tua kau membasuh wajah.terasa ada yang tanggal meski kau tak tahu apa,meski kau bergegas ke sebuah cuacaada yang tinggal dan terus menyapa…
kafilah 1
Herry Sudiyono di perigi tua kau membasuh wajah –alang-alang berbisik tentang sebuah jejak yang hilang.apakah pulang, kau bertanya, hanya sebentuk erang yang kian memutih?sebilah detik terjatuh dan menepi pada batu yang bermimpi hikayat api.apakah akar perjalanan? kau tecekat ketika udara menusuk-nusuk dengan lengking yang buta. bergegas kita, ucapmu, menyingkir dari rindu yang getir.