Total Kriminal

Amir Ramdhani entah, kebencian tak pernah punahdiarwahi dendam paling jahanamtanpa rasa dosa sadis membunuhmembabat sekelebat kedamaian kriminal mengentalbermoral begal bermental brutalawas! itu bisa fatal frustasi dengan segala keberingasanjangan terprovokasi, tahanlah emosiberkacalah pada darah, darah manusiaterka bahaya petaka neraka!2005

Pedagang di Gang

toko toko sudah tutup. kosong memang.lewat gang yang lengang,teriakanmu lantang sepanjang gang.engkau pedagang,ketiadaanmu adalah heningyang membekap tiap gang,kecuali hingar petir yang sesekali menggaung.malam makin lama makin dingin dan seram,seganas kenaikan harga BBM.dan, pada gang yang lengangitu gerobakmu melenggangmengais uangdi keranjang kehidupan kota yang garang2005

Nganggur

kita telah gagalnihil modaltersengalsengal dijejal aral mabuk cita-citasempoyongan melamar kerjahasilnya terjungkal trauma dan mungkin tetap terlantarkabel listrik otak rusakrentan tercekik konflik tengik tapi kita masih bisa bangkitwalau persaingan semakin sengittakkan membunuh ruh penuh semangat2005

Penulis Edisi 153

Han Gagas, lahir dengan nama Rudy Hantoro dan tamat dari Geodesi UGM Jogjakarta. Karyanya antara lain dimuat Koran Sindo, Majalah Gong, Solopos, Pawonsastra, Joglo, antologi Cinta Pertama. Tahun 2007 menang sayembara cerpen Komunitas Senja, Fakultas Sastra, Universitas Andalas, Padang. Buku kumpulan cerpennya Jejak Sunyi segera diterbitkan. Amir Ramdhani tinggal di Depok, masih kuliah di Universitas […]

Ibu Presiden

Tirzah The BeginningBagaimana seorang ibu rumah tangga bisa menjadi presiden salah negara berpenduduk terpadat di dunia? Jawabannya keberuntungan, atau mungkin kesialan? Semuanya diawali dengan kisah seorang ibu rumah tangga bangsa Indonesia yang menikah dengan pria Inggris dan tinggal di Singapura. Ibu itu datang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura untuk mengurus visa putrinya yang […]

Gadis Yang Selalu Duduk di Kursi dan Memandang ke Luar Jendela

Han Gagas Saat itu, aku tertegun, memandangmu, wajah mempesona yang sendu. Kau duduk di kursi memandang ke luar jendela, seakan ingin melemparkan hasrat hidupmu di sana. Berteman dengan kebebasan burung-burung atau angin yang berhembus kemana saja. Wajahmu putih nampak pucat –aku ingin membasuh mukamu dengan air hangat dan handuk tebal yang empuk- dan bibir tipis […]