Trem
MH Rustandi Kartakusuma (1950) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Trem mendudu terus!Mendengking-dengking mengular Aku putus asa,Teman di seberang kali mencemooh Payah aku berlari tadi,Orang mendesak ke arah yang kutinggalkan Pencopet mencari dompetkuDan keringat bersimbah Sia-sia kan segala nafasku itu? Pandir, di kota sejuta iniTrem ini bukan satu-satunya***
Jakarta Di bawah Hujan
Sapardi Djoko Damono (1964) Djakarta Dalam Puisi Indonesia Jakarta di bawah hujan, lampu demi lampu laksana dalam impiansunyi hatiku seperti bukit, orang-orang bergerak bagai mainan: ketika semakin reda tersembul aneka suaraterjebak dalam sajakku, suasana dalam sebuah suasana sepiku seperti bukit, merekapun bergerak-gerak di bawah renyai gerimisnoktah-noktah yang selalu gelisah antara tawa dan tangis;o mari ke […]
Lebih Hitam Dari Hitam
Iwan Simatupang Sejak hari pertama aku dirawat di bagian penyakit jiwa rumah sakit ini, segera ia menarik seluruh perhatianku. Ia mempunyai kepala besar dengan bentuk yang khas. Bahkan boleh dikata seluruh perawakannya adalah khas. Caranya mengamati seseorang, memulai bicara, semuanya meninggalkan kesan, mengajak kawan berbicaranya tertegun dan segan. Adakah ia macam orangnya yang disebut berpribadi […]
Kemarin Sore, Tentang Kehilanganmu
Elfira Arisanti Ingatkah kau perjumpaan pertama kita, Sayang? Saat mentari padam,Dan bumi Tegalboto dalam kelamCakrawala menghitamHampir aku naik pitam Di sampingku kupegang payungDi tubuhmu melekat jaket bertudung Kau semakin mendekatMendadak langit semakin hilang pekatAku tercekatOoooh… kau sungguh begitu memikat Rasa ini meradangNamun sayang harus terbungkamTentang kita bukan lagi kemenanganSemua sekarang tinggal kenangan Kini aku tersayat, […]
Ada kemauan yang terbatas
Untuk keinginan yang tidak terbatasberharap yang terpantasdari Sang Maha Tanpa Batas***
Sendu
meliuk luluhbermalam kelamtersulam temaramlalu tergeletak lunglai***
Lebur
Aku dan kamu menepiAku dan kamu menyepiAku dan kamu mengerti Aku dan kamu yang ditakdirkan menjadi kita Kita terikat oleh rasa yang samaKita menyatu kuat melebur Jangan biarkan diri kita rapuhKita pasti bisa karena kita utuh
Penulis edisi 231
Iwan Simatupang (18 Januari 1928 – 4 Agustus 1970). Lokot Martua Dongan Simatupang lahir di Sibolga dari keluarga Katolik. Iwan, demikian ia menyebut dirinya, wafat di Jakarta sebagai, menurut istilahnya juga, gelandangan intelektual walaupun sedang ikut memimpin koran Warta Harian. Pernah menetap di Eropa Barat, Iwan juga menyerap eksistensialisme dan sebagaimana Sitor Situmorang, hal itu […]