Duh Gusti! (2)
Duh Gusti!jangan-jangan ayam goreng tepungyang kukubur di perut gendutkudi goreng dengan darah para peternak Duh Gusti!jangan-jangan air minum kemasanyang merawat ginjalkudi sedot dari keringat petani Duh Gusti!jangan-jangan ikan kalenganyang berjejalan di lambungkudi bumbui jantungnya para nelayan Duh Gusti!kenapa aku hanya memikirkan diriku sendiritak hirau kemiskinan disekitarku***
Duh Gusti
Hayat rasanya belum lama, selaksa pilu kau gerojokkangempa di alor, di nabirebanjir bandang yang meluluhlantakan bohorok,banjir bandang yang melahap sawah-sawah penduduk di watu kelir, di cawas, di langkattanah longsor di mandalawangi, di endelangganan kebakaran hutan di kalimantankecelakaan pesawat bertubi-tubikematian misterius orang-orang pemberani dan kini…tsunami menggilas habis seluruh isi perkampungan kamibayi-bayi kami, orang tua ,handai taulan […]
Tentang Penulis Edisi 92
Nabiha Shahab,pegiat lingkungan, wartawan lepas, tinggal di Jakarta. Gendhotwukir,lahir di Muntilan,Jawa Tengah, Mahasiswa Filsafat St. Augustin Jerman, penulis lepas, tinggal di Jerman. Hayat,penikmat seni dan sayur asam
Dokter Zhivago
Boris Pasternak(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960) Mereka tinggalkan rumah waktu fajar. Para penghuni lainnya mestinya masih tidur, tapi seorang dari mereka, Zerovotina, sangat gemar mengatur peristiwa sosial, maka dibangunkannya seisi rumah: “Perhatian! Perhatian! Kawan-kawan; Lekas! Pamitlah dengan bekas kaum Gromeko. Orang membanjiri serambi belakang (pintu depan sekarang terus dipalang) dan […]
Aku Ingin Tidur di Biru Matamu
** Kepada Muriel Setelah perjalanan melelahkan ini,aku ingin tidur di biru matamu.Berkerudung langit biru matamu,diayun gelombang langit birumu,memecah asa di tumpahan karang menderu.Terayun-timang ditimang terhampar di negri biru,sejuk-senyap biru matamu menghembus sepoi. Biru matamu yang berkaca-kaca kilap,lincah menggoda tuk segera terdekap. Kepada langit birumu kukata,runtuhkan hujan hiburmu,membasahi tanah kerinduan yang keronta merindu. Kepada laut birumu […]
La Bella Pastorella
** Liedvariation für zwei Violinen und Basso Continuo Menarilah di kubangan dingin,dalam deru pekat yang gentayangan.Gempita berkejaran meneduh di dua Biola,disambut sukma Cello tak mendua. Kejar-kejarlah Biola,sedikit lagi khan di perhentian.Penantian akan segra tersingkap,tatkala Bintang Timur menggerlap. La Bella Pastorella tercipta,di genggaman waktu purba 1623-1680. Mendekap adven, terulang di mata terpuja. Johann Heinrich Schmelzer,memantul di […]
Jihad
Gendhotwukir Telah kau ludahi tanah,tempat istrimu berzinah.Dan setelah itu berbenah,pendam amarah tuju ziarah. Setelah dendam berlabuh di pusaka hormat,berjihat tanpa alamat.redam-meredam ibarat hasrat,bercahaya gegap di awan pekat. Bapa bangsa sekarat,Bunda pertiwi melarat,Anak negeri laknat,Dunia bejat,karena semua berjihat di dunia yang sudah penat Wittlich, 290904