Hayat

rasanya belum lama, selaksa pilu kau gerojokkan
gempa di alor, di nabire
banjir bandang yang meluluhlantakan bohorok,
banjir bandang yang melahap sawah-sawah penduduk di watu kelir, di cawas, di langkat
tanah longsor di mandalawangi, di ende
langganan kebakaran hutan di kalimantan
kecelakaan pesawat bertubi-tubi
kematian misterius orang-orang pemberani

dan kini…
tsunami menggilas habis seluruh isi perkampungan kami
bayi-bayi kami, orang tua ,handai taulan dan sahabat kami
sisa gelombangnya menghantam bathin kami
mengiris hati , mengucurkan hujan airmata yang sangat deras
mengapa laut yang biasa menghidupi kami berubah menjadi si pembunuh ?

apa yang bisa kami lakukan
untuk menahan murka-Mu

cukupkah hanya menangis?
cukupkah hanya bertanya pada rumput yang bergoyang?

rasanya kamilah yang terlalu bodoh
tak bisa membaca ayat-ayat kauniah-Mu

seringkali jelasnya isyarat yang engkau sampaikan
kukaburkan maknanya
agar sesuai keinginanku

mengenang korban gempa bumi di aceh 26 desember 2004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *