Kutelisik Seonggok Batu
Kutelisik ceritamu dari balik mataMata tajam seorang pemburuAku melarut-kan pikiran dalam ceritamuTentang sesuatu yang tak kutahudan besok pasti begitu Tetapi telisikku membentur jidadJidad keras kepala batu-Mudan besok, kau onggokan batu didepankuAku paham inilah cermin diri-MuSe-onggok batu. Rumah Hijau, 22 January 2006
Tentang Sabang
Kuceritakan Sabang dari UleleSabang Molek dan cantikTak ada petualang raguKarena Sabang, bali sumatera Galian batu adalah SabangDari Paya Seunara sampai BlangtunongGali batu bangun reklamasiGali batu tambah daratan Gali batu, siapa untung ?Aku tahu Gali batu, siapa yang kaya ?Aku tahu Gali batu, siapa yang rugi ?Tak perlu kujawab, kalian sudah tahu. Rumah Hijau, 22 January […]
Aku Bermimpi
Dewa Gumay Dalam cermin kulihat Aceh gegap gempitaJangankan hotel, rumahpun Se-tinggi petronasKanak-kanak mulai enggan ke pantai lhokngaKolam renang lebih segar katanya Ke-pasar aku terkejut,Orang-orang tak berbusanaAurat diobral murah, bukan muhrim tak ada bedaPasar kita bak eropa, transaksi tanpa moral sudah biasa Ke-ulele, aku terisakSahabatku tidur dijalanDi Pantai orang pakai bikiniTiba-tiba dari pentagon terdengar suaraPenduduk Aceh […]
Tentang Penulis Edisi 122
Ayu Hermawan, bekerja di sebaga konsultan komunikasi di Jakarta. Dewa Gumay, pegiat lingkungan yang bergabung dengan Walhi di Banda Aceh.
Tentang Sabang
Kuceritakan Sabang dari UleleSabang Molek dan cantikTak ada petualang raguKarena Sabang, bali sumatera Galian batu adalah SabangDari Paya Seunara sampai BlangtunongGali batu bangun reklamasiGali batu tambah daratan Gali batu, siapa untung ?Aku tahu Gali batu, siapa yang kaya ?Aku tahu Gali batu, siapa yang rugi ?Tak perlu kujawab, kalian sudah tahu.***Rumah hijau, 22 January 2006
Aku Bermimpi
Dalam cermin kulihat Aceh gegap gempitaJangankan hotel, rumahpun Se-tinggi petronasKanak-kanak mulai enggan ke pantai lhokngaKolam renang lebih segar katanya Ke-pasar aku terkejut,Orang-orang tak berbusanaAurat diobral murah, bukan muhrim tak ada bedaPasar kita bak eropa, transaksi tanpa moral sudah biasa Ke-ulele, aku terisakSahabatku tidur dijalanDi Pantai orang pakai bikiniTiba-tiba dari pentagon terdengar suaraPenduduk Aceh 10 persen […]
Kutelisik Cerita Seonggok Batu
Dewa GumayKutelisik ceritamu dari balik mataMata tajam seorang pemburuAku melarut-kan pikiran dalam ceritamuTentang sesuatu yang tak kutahudan besok pasti begitu Tetapi telisikku membentur jidadJidad keras kepala batu-Mudan besok, kau onggokan batu didepankuAku paham inilah cermin diri-MuSe-onggok batu.***Rumah hijau, 22 January 2006; 14.58
Tentang Penulis Edisi 55
Sitok Srengenge, penyair. Edwin, anak Yayasan Seni, Estetika dan Teknologi di Jakarta. Dewa Gumay Lembak, anak Palembang penulis cyber dan koran lokal. Syam Asinar Radjam, menulis novel Smaradina Muda Mangin di Bogor.
Sajak Untuk Kawan
Kita adalah Mahasiswa Angkatan genitLahir dari Rahim ReformasiBenih Mani Haram KapitalisKita Kurang diajar dalam melihat kenyataan,Karena Kenyataan tidak dimiliki sekolahan,Sekolahan hanya punya teori dan geli. Kita melihat sarjana-sarjana menganggur,Karena tidak diajarkan kenyataan,Kita tidak bisa menciptaTetapi ingin memakai Kita tidak bisa memimpinTetapi ingin berkuasa. Kita diajar untuk patuh, taatBukan diskusi dan berdebat Kita diajar untuk hapalBukan […]
Sajak Protes
Dewa Gumay LembakInilah sajakkuSajak Orang-orang pinggiranSajak Orang-orang termarginalTapi tak segenit Orang-orang atasan Aku tulis sajak iniKarena surat ProtesMembentur jidat si tuan janganYang bersajak tentang kebenaranSementara ketidak adilan berdiri di depan-nya Ooooo … Jangan kau baca sajakkuSajakku penuh makianSajakku penuh hinaanKarena surat protes tak pernah di dengar Aku tulis sajak ini.Karena surat ProtesMembentur jidat si punya […]