Seperti
saat rindu sampai nangis-nangisbukan seperti aku rasanyabahkan sempat tak bisa tidur semalamansaat tidak ada kalimat sayang terbacaatau terdengar di telinga ampun aku akan rasa iniseperti anak remaja baru pacarantapi yang seperti inisungguh ini yang pertamatidak pernah aku rasa sebelumnya***DesignNight, 27 August 2010
Untuk Gambaran Doamu
Dewi Penyair aku inginengkau berdoa sepertikutidak dengan banyak kalimattapi intinya bisa membuat kitatidak terkungkung jarak batas dan waktuselama hidup menuai rasa cinta***HiddenPlace, 31 August 2010
Penulis Edisi 198
Arpan Rachman, pegiat sastra yang tinggal di Palembang.. Dewi Penyair, karyanya sudah diterbitkan dalam beberapa buku kumpulan puisi.. ___________________
Ku Kepadamu
Dewi Penyair demikian aku menyimpan rasa cemburu pada waktu-waktu punyamu yang tak bersamaku setelah kutahan-tahankan perasaanku dengan menyimak semua tulisan-tulisanmu agar aku selalu percaya bahwa cintamu adalah kepunyaanku dan ertahun lamanya engkau mengendap di kepalaku menjadi pikiran di tiap siang malamku karena aku sadar benar mencintaimu adalah tantangan yang bisa membawaku berputar pada pusaran tak […]
Rasaku Saat Menunggumu
alangkah telah aku rasakan bagaimana sepinya tanpa ada engkau disini, begitu sunyi sepanjang malamku ketika dingin di luar sana sempatmengigilkan sebagian tubuhku dan sesungguhnya tak ada yang bisa kuperbuat saat rindu dalam dada kuat membuncah sementara engkau berada jauh disana hingga aku hanya bisa menyusut airmata, meratakannya di kedua pipi menepikan alangkah rindunya telinga mendengar […]
Penulis Edisi 188
Ani Mulyani, karyawan swasta di Jakarta dan mahsiswa Universitas Dr. Moestopo Wien Pengembara, peraih anugerah Adiwarta Sempoerna 2008, sehari-hari bekerja sebagai Pemred Tabloid GayoLand. Dewi Penyair, bukan dari keluarga penyair dan bukan mau menjadi seorang penyair tapi tulisannya -pengkauanny- adalah perasaaan jiwa yang mengimbangi kesetaraan pikiran. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden […]
Gerimis Subuh Buta
gerimis subuh butabangunkan lelap tidurberharap kau juga d isanaterjaga dan merindu aku dalam helai selimutaku mau hangatmusehangat napaskuyang selalu menyebut satu namadi bangun dan tidurku(Maitri, 09 June 2009)
Di Sini
Dewi Penyair wajahmu belum tiba juapadahal rindu sudah jadi doahanya cahayamu sajamenerangi seluruh diamdi sini cepatlahkekasihjangan biarkan aku menunggusampai lelap dan terlelap lagihingga esok dan esok lagidi sini(Maitri, 13 June 2009)
Penulis Edisi 178
Ganjar Sudibyo Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Dewi Penyair, bukan dari keluarga penyair dan bukan mau menjadi seorang penyair tapi tulisannya -akunya- adalah perasaaan jiwa yang mengimbangi kesetaraan pikiran. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar.
Pada Lengkung Takdir
di bawah sinar bulan pikiran melihat kematian menggambarkan jiwa beralih ke kehidupan lain aku melihatmu reinkarnasi jadi cahayamengitari tubuhenggan melepas pada lengkung takdiraku dan kau tiada bedatak berdayaterhadap persepsi TuhanThailand, 17 Maret 2008