Tanah Berpasir Juang
Tanah ini bukan tanah biasa, bukan sekedar pijakan manusia belaka. Bukan hanya pelataran tempat lahirnya gedung-gedung , kantor–kantor dan rumah-rumah bertingkat dengan kemegahan. Bukan pula tempat memendam segala yang mati atau hidup. Bukan. Ini adalah tanah tanpa hiasan-hiasan permadani maya lambang manusia pelupa sejarah. Ini adalah tanah beratas pasir juang. Di mana leluhur menaruh cinta […]
Surat Kepada Pangeran
Pangeran mulia, Kita telah menunggangi kuda-kuda sejati, memanah, menikam bersama. Kita telah setia menjaga lahan-lahan para petani, rumah-rumah rakyat darigerilya musuh, juga lembaran-lembaran wasiat dari bola-bola api. Kita telah memastikan musuh lari terbirit-birit melihat pasukan kita menggempur dalam bara dan tak mudah dibelah. Selesailah pertempuran kita. Namun ingatlah di tidur panjangmu, kita bukanlah pahlawan tanpa […]
Diet Lamunan Berat
Ganjar Sudibyopenyairpadipecandukata.blogspot.com Lebih dari setengah musim kemarau ia belajar menyusutkan lamunan berat di perut kepalanya. Seperti seorang dokter piawai akan pasien, ia pun piawai akan dirinya. Dengan sebuah catatan kecil ia coba menulis resep ampuh. Semusim beranjak, resep telah berulang ia praktikkan di laboratorium di perut kepalanya. Dan sekian lama, ia mendapat aturan pakai di […]
Penulis Edisi 180
Herry Sudiyono, pernah masuk Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung namun tidak selesai dan menerbitkan buku terjemahan puisi Alejandra Pizarnik. Kini tinggal di Yogyakarta. Ganjar Sudibyo, Mahasiswa Psikologi Universitas Diponegoro, Semarang. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar. __________
Katamu
Ganjar Sudibyo Katamu sungai itu adalah belahanmuSedang delta adalah kepunyaankuDan kita bertemu di arus tenang rawa ituSesaat di penantian senja kelam Tapi ular kau!Membisik bujuk di puncak lelahkuMenyisa ciptakan adam adam baruMemecah puingkan kaca kaca tempat dua kepingMelebur kristalkan diri, laluTertumpah ke atas lontaran naskahku (kutinggal saja kelumpuhanku)
Kataku
Aku tak mau ditipu olehmuOleh irisan nada nada melodis busukmuOleh lembaran lukisan lukisan firdausmuOleh teduhan larik puisi puisi mawarmu sadar inderaku tak mudah terkelabuh dua kali***2009
Penulis Edisi 178
Ganjar Sudibyo Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam. Dewi Penyair, bukan dari keluarga penyair dan bukan mau menjadi seorang penyair tapi tulisannya -akunya- adalah perasaaan jiwa yang mengimbangi kesetaraan pikiran. Imron Supriyadi, tamatan Fakultas Usuhuluddin Jurusan Dakwah, IAIN Raden Fatah Palembang dan menjadi jurnalis. Karya-karyanya dimuat di sejumlah surat kabar.