Transitalia
tak ada kereta ke Barcelona hari inipadahal aku ingin teruskan mimpi di sana aku masih di stasiun Milanotadi pagi kuterima kabartak hilang sepi yang mendatangimu beria-riamau kau sukakan dengan anggursudah tak manis lagidan kau bilang semua ruangmu tertutup aku melihat kereta datang dan pergiyang berpelukan harus rela melepaskan yang dipeluklalu melambai, mula-mula dekatmakin lama menjauhdan […]
Eiffel
kau pernah lihat Paris bergaun malam?di sana dia menyembunyikan keperkasaannyadan memoles tebal-tebal bibirnyasupaya ketika tersenyumsiapa pun dibuatnya terpana aku mengeluh piludari sini kunikmati nafasmuyang tak pernah selesai bercumbu
Eiffel
Laura Paais mana puisi-puisi yang kau tulisdan kau kirim buat perempuan Afrikaberkaki panjang itu? dengan mawar sepuluh tangkaikau bilang itu cukup dengan puisi dua baitkau bilang dia gemetar dengan satu tatap matakau bilang dia terlena Eiffel…Eiffelaku termangu melihat lagakmu
Tentang Penulis Edisi 108
Ningrum N. Sirait, ahli Hukum Dagang Internasional, dan di tengah-tengah perjalanan tugasnya juga mengajar di Unversitas Sumatera Utara, Medan. Laura Paais, penulis naskah iklan yang lahir di Surabaya dan kini tinggal di Jakarta.
Tentang Penulis Edisi 97
Mula Harahap,pengelola sebuah penerbitan di Jakarta dan pengurus Yayasan Adikarya IKAPI. Laura Paais , penulis naskah iklan (copywriter) di beberapa perusahaan periklanan seperti Citra Lintas, Dentsu, Grey dan Jejak.
Vught
: kamp konsentrasi keterasingan menghampirikutanpa siapa-siapahanya papan peringatansungai dingin yang angkuhdan bunyi udara mendengung aku teruskan berjalanmenelan ludah mencerna kejadiansebetulnya tak perlukarena aku hanya singgahdan tak ingin membawa apa-apa dari sini suara alam berlomba mengisi sanubarisia-sia ditepismasuk terus tanpa permisiaku menatap sungainya, daun-daun dan pohon-pohonjiwa hati mata benak tubuh yang sudah tamatnamanya pun hilang samar-samar*
Salatiga
:hutan kecil asrama susteran aku merasa tidak perlu bertanya kepada Tuhanmengapa ada yang luluh lantakselesai mendadakaku merasa diam-Nya membikinku kelumengerti tidak mengertikeras lembutnya Tuhan sama dahsyatnyamakin ke sinimanusia makin berkilahpadahal tak tahu masaasa pun serapuh rumputaku merasa tidak perlu bertanya kepada Tuhanmengapa?jadi kutelan semua pertanyaandan membuangnya di jamban(libur lebaran-Salatiga 2004)
Kintamani
Laura Paais anak malang,kenapa dingin kau timbun begini banyakpadahal selimut yang kutisik belum lagi jadimana bisa aku hangatkan jarimu