Tentang Penulis Edisi 124

Ningrum Sirait, doktor hukum dagang internasional yang mengajar di Fakultas Hukum USU, Mia Singgih, tamatan Universitas Indonesia yang kini menetap di Inggris. Presiden Hayat, penikmat seni dan sayur asam.

Sandal Jepit Kuning

Mia Singgih Langkah gamang di jalan setapakBeralas sandal jepit berwarna kuningKerikil tajam menusuk telapak kakikuTerasa menembus perih dan tajamAku berjalan terusHingga perih ituBerganti jadi kenikmatan Langkah gamang di jalan setapakSambil mengusap keringat di keningKaos putih basah melekat di tubuhkuButiran peluh panas menghunjamAku berjalan terusHingga panas ituBerganti jadi kesejukan Langkah gamang di jalan setapakTeguranmu tak membuatku berpalingLumpur hitam mengotori celana denimkuBahkan kemuraman jiwaku ikut terbenamAku […]

Putik Salju

Lukisan itu belum lagi selesaiCat airnya pun belum mengeringDi atas meja kerjaku masih terbaringSetumpuk lainnya yang terbengkalai Kuangkat mataku mencuri pandangMenembus jendela berkaca beningMusim dingin di hari yang heningSekuntum senyum menerawang Si putik salju telah menyeruakMenepuk pundak alam sekitarMenembus kebekuan pagi bersinarMengangguk tersipu gemulai menyibak Tarian angin memikat putik melambaiMelantun senandung rayuan musim semiLekaslah datang […]

Musim dan Kamu

Mia Singgih Ketika bunga-bunga mulai bersemiKelopak demi kelopak merekah menghirup napas surgaBurung dan kupu berkejaran menyambut sang suryaLalu kamu berkataSeandainya saat itu waktu bersahabat dengan kitaMungkin degup di dada menyatu tak hanya sementara Ketika alam dibasuh terik matahariLebah dan kumbang bercanda hangat penuh tawaAngin musim panas semilir sejuk membelai manjaLalu kamu menggodaAku dan kamu tenggelam […]

Tentang Penulis Edisi 99

Eliakim Sitorus,pegiat LSM yang menangani masalah konflik. Mia Singgih, tamatan Fakultas Sastra UI, kini tinggal di Hilperton, Inggris.

Tentang Penulis Edisi 89

Liston P. Siregar, wartawan kelahiran Medan.Mia Singgih, tamatan Universitas Indonesia, pernah bergabung dengan Gerak Musik Seloroh, yang mendukung musik Teater Koma pada masa-masa awal pementasan dan kini tinggal di Hilperton, Inggris.

Pelangi

Mia Singgih Kanvas biru itu pernah bercoreng warna benderangSang pelangi menggoretkan semarak tawa riangBerlatar belakang hujan gerimis berdecak berderaiSamar-samar mengaburkan gelak di balik tirai Kemarin sore semuanya jelas terlihat tanpa keraguanPagi tadi hanya warna kelabu tertinggal sendirianPelangi yang merentang bagai selendang berupa ronaSekejap hilang tak berbekas di kehampaan cakrawala Hei … ke mana hilangnya canda […]

Tinggalkan Senyummu di Sini

Tolong biarkan terbuka pintu ituTiba saatnya untuk melepaskanJangan menoleh lagi ke belakangCukup tinggalkan senyummu di sini Tolong hapuskan sisa luka di hatimuBiar berlalu dengan waktu berjalanJangan mengusik jiwa yang tenangCukup tinggalkan senyummu di sini Tolong lupakan segala janji semuTak guna mengumbar secercah harapanJangan hiraukan lamunan menerawangCukup tinggalkan senyummu di sini Tolong bebaskan dari kepedihan bekuHapuskan […]

Kangen Rudi

Tadi malam aku bermimpi lagiAku kangen, koq terus berulangTadi malam aku berdoa dengan hikmatAku kangen, koq enggak terucap Tadi pagi aku terkenang lagiAku kangen, koq enggak pulangTadi pagi aku merenung sesaatAku kangen, koq enggak lenyap Tadi siang aku berkebun lagiAku kangen, koq enggak datangTadi siang aku melihat seekor ulatAku kangen, koq enggak kamu tangkap Sore […]

Kaca

Mia Singgih Seandainya kaca itu bisa berucapMasih perlukah perasaan bimbangTentang keberadaan sesaat? Seandainya aku bersayapMasih perlukah aku terbangMeninggalkan pertalian yang erat? Seandainya kaca itu tak retakMasih perlukah aku mengenangSerpihan-serpihan pilu menyayat? Seandainya aku tak tersentakMasih perlukah aku mengerangKesakitan yang singgah sekelebat? Kaca …Pandanglah mata hatiku jauh ke dalamPungutlah pecahan-pecahanmu yang tajamYang menggores luka berdarah merah […]