Jokowi

Sejak memegang jabatan Oktober lalu, Joko Widodo, gubernur Jakarta yang sederhana dan populis, bertindak sesuai dengan reputasinya sebagai Tukang Bereskan. Setelah membalikkan ketertiban politik Indonesia di bagian atas dengan mengalahkan gubernur yang menjabat di ibukota, dia menempatkan dirinya berbeda dari politisi lain, yang banyak dilihat sebagai korup, sombong, dan berjarak.

Widodo, yang akrab dipanggil Jokowi, tanpa diumumkan ‘blusukan’ ke kawasan-kawasan kumuh, ngobrol dengan para penduduk tentang layanan kesehatan dan pendidikan. Para ibu rumah tangga cekikikan ingin berfoto dengannya. Tanggal 9 Januari, dia memerintahkan pembangunan enam jalan tol dan mengumumkan rencana untuk relokasi pedagang kaki lima untuk membantu mengurangi kemacetan di Jakarta yang legendaris. Pemerintahannya juga menyusun usulan untuk saluran besar pembuangan bawah tanah guna mengurangi banjir rutin di ibukota. Dalam banjir besar terbaru, 16 dan 17 Januari, ketika hujan lebat menenggelamkan hampir setengah ibukota, 20 orang tewas dan 40.000 mengungsi.

Widodo kembali turun ke jalan untuk berjanji akan lebih banyak tindakan guna mencegah banjir, dan tanggapan urgensinya menjadi perubahan yang disambut dalam sebuah negara yang terbiasa dengan tenggat waktu politik yang tidak jelas. Tanggal 8 januari, dia terpilih sebagai walikota ketiga terbaik ujtuk tahun 2012 oleh World Mayor Project karena keberhasilan sebelumnya memimpin Solo.

Kepemimpinan gubernur baru ini bukannya tanpa kontroversi: dia menimbulkan pertanyaan dengan menentang proyek pembangunan transportasi massal cepat (MRT) senilai US$1,6 miliar untuk Jakarta, yang sudah direncananya selama beberapa dekade dan akan dimulai tahun ini. Sebaliknya, dia mengangkat kembali usulan senilai US$495 juta monorel yang didanai swasta untuk pusat kota. Jakarta merupakan salah satu dari beberapa kota besar di Asia yang tidak memiliki MRT dan warga kota yang terkepung melihat pembangunan MRT sebagai harapan terakhir untuk mengakhiri kemacetan. Para ahli mengatakan monorel yang mengelilingi kawasan bisnis dan belanja Jakarta tidak akan membantu karena tidak menghubungkan komuter dari kawasan pinggiran.

Bagaimanapun, kini Widodo sudah mundur dari monorel, setelah mendesak pemerintah pusat sepakat untuk meningkatkan sumbangan pendanaan bagi proyek MRT menjadi hampir 50%. Sejumlah orang mengatakan dukungannya untuk monorel merupakan cara untuk mendapatkan tujuan itu. Sebagai gubernur yang tampaknya cerdik dan cakap, tidak mengherankan Widodo disebut-sebut sebagai peluang presiden masa depan.
***

pencerita

Leave A Comment