Penulis edisi 229

Suhendri Cahya Purnama, pelaku seni yang tinggal di Bandung. The Economist, majalah mingguan terbitan London, Inggris. Ajip Rosidi (lahir 1938) pertama kali pindah ke Jakarta tahun 1951 ketika mau melanjutkan sekolah menengahnya, belajar menulis dan memilih kesusastraan sebagai pilihan hidupnya di sana, memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955), Prosa (1955) dan Budaja Djaja (sejak 1968). Pernah memimpin Madjalah Sunda (1965-1967) di Bandung. Sejak 1971 memimpin […]

MORE
Cikini Raya

Ajip Rosidi (1954) Djakarta Dalam Puisi Indonesia pedagang kembang yang menembang sumbangdilarikan karet becak ke ujung malamlampu-lampu jalan bersinar terang                                    lari bayangandan malam makin lenggang pedagang kembang mengebas ranjangtembang riang mau pulang                                    sama sisa malam jalan makin ratabening berbayang***

MORE
Dari Dukuh-Krakatau

Wing Kardjo (1958) Djakarta Dalam Puisi Indonesia *Untuk Surachman R.M. dan Budiman S, kawan lama danb teman bersepeda Kereta barang malam-malam menyemburkan bunga apimerah menyobek-nyobek badan hitammenjeritlah nada tinggi mengoyak-ngoyak sepimenyemburkan amarah dan dendam (Biar lebur, biar luluhdalam panas liang-liang tubuhyang menunggudi pasar-pasar kembang) Adalah awal tembang yang sumbanggubuk tumbuh tanpa tianglelaki menggali-gali lubangmemotong akar-akar […]

MORE
Jokowi

Sejak memegang jabatan Oktober lalu, Joko Widodo, gubernur Jakarta yang sederhana dan populis, bertindak sesuai dengan reputasinya sebagai Tukang Bereskan. Setelah membalikkan ketertiban politik Indonesia di bagian atas dengan mengalahkan gubernur yang menjabat di ibukota, dia menempatkan dirinya berbeda dari politisi lain, yang banyak dilihat sebagai korup, sombong, dan berjarak. Widodo, yang akrab dipanggil Jokowi, […]

MORE
Sendiri, Sejenak, Aku Bicara Cinta

Sendiri, aku duduk di taman itu. Berusaha bercakap dengan siapa pun yang terlihat. Mengajak mereka agar sudi berbagi kelu denganku. Tapi, semuanya terasa asing. Terasa berjarak. Dan terasa nisbi. Sejenak, aku bersandar di bangku yang menghadirkan dirinya di taman itu. Menggeragap apa pun yang tertampak. Berharap siapa saja yang melihatku, mau menyambangi dan menyentuh raga […]

MORE