Penulis edisi 227

Tosca Santoso menjadi jurnalis lebih dari 20 tahun. Kini, ia Direktur Utama KBR68H, kantor berita radio independen terbesar di Indonesia.  Ia memimpin kantor berita itu sejak didirikan Tahun 1999.  Sampai sekarang KBR68H melayani berita dan program-program radio berkualitas untuk 900 radio lebih di Indonesia, serta 9 negara  di Asia and Australia.  Selain mengelola KBR68H, Santoso juga menjadi Direktur Utama Green Radio dan Tempo TV.

Vincent Mahieu adalah nama samaran Jan Boon yang lahir pada tahun 1911. Ia adalah penulis cerita yang disebutnya dongeng dalam kumpulannya berjudul Tjoek dan Tjies. Di samping Vincent Mahieu, ada nama samaran yang lain, yaitu Tjalie Robinson. Nama ini populer ketika dia menjadi redaktur Majalah Orientatie, yang pernah terbit di Jakarta tahun lima puluhan, di dalam majalah tersebut dia menulis aneka ragam karangan, begitu pula dalam harian Niewsgier yang terbit seiringan dengan majalah itu di Jakarta. Kumpulan ceritanya Tjies mula-mula diterbitkan oleh pemerbit Gambir di Bandung pada tahun 1954, kemudan oleh penerbit H.P. Leopold di Den Haag. Sedangkan Tjoek pertama kali diterbitkan oleh peneribit Tong-Tong di Den Haag. Kedua kumpulan cerita itu diterjemahkan oleh HB Jassin ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan dengan kerja sama Kedutaan Belanda oleh Penerbit Djambatan.

Harijadi S. Hartowardojo (lahir 1930) Sekarang terkenal sebagai seorang astrolog dan pengkritik sosial budaya. Tapi ia mulai dengan sajak-sajak yang dalam awal tahun limapuluhan sangat banyak memenuhi halaman-halaman kebudayaan majalah-majalah terkemuka di Jakarta. Sebagian d ari sajaknya diterbitkan dalam Luka Bayang (1964). Tahun 1971 ia menerbitkan sebuah roman berjudul Orang Buangan yang banyak mendapat sambutan, maupun banyak menulis cerita pendek dan karangan-karangan bersifat reportase. Ia pernah menjadi wartawan surat kabar Pedoman dan sekarang duduk sebagai anggota redaksi majalah Budaya Jaya di samping sebagai kolumnus Harian Kami dan penerbitan-penerbitan lain.

Chairil Anwar (1922-1949) pelopor Angkatan 45 yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Sajak-sajaknya baru diterbitkan setelah dia meninggal, yaitu Tiga Menguak Takdir (bersama Rivai Apin dan Asrul Sani), Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Luput (1950). Ia lahir di Medan tapi setelah kelas dua MULO ke Jakarta, tempat ia hidup dan kemudian meninggal pada usia 27 tahun. Diapun ada menulis esai dan menterjemahkan karya-karya sastra dunia, baik puisi maupun prosa. Ia menterjemahkan sajak-sajak Marie Rilke, Edward du Perron, dan cerita karya Ernest Hemingway dan Andre Gide. Meskipun kemudian beberapa karya dinyatakan plagiat, tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia tetap diakui orang. __________________________________