Djakarta, OK, OK Saja

Lenah Susianty

Djakarta. Ouupps, majalah baru (newish/kebaru-baruan) macam apa pula ini? Namanya tidak mencerminkan kebaruan ; D-j-a-k-a-r-t-a. Jakarta, ibukota Republik Indonesia, dalam bentuk majalah sengaja dieja dengan ejaan lama (orde lama, masa Soekarno). Entah maksudnya untuk menggoda Ibu Wakil Presiden Megawati (barangkali?) atau sekedar ungkapan kegenitan, seperti para remaja yang walau lahir sesudah EYD (Ejaan yang Disempurnakan) diberlakukan, tetap entah belajar darimana berani-beraninya menuliskan kesengsaraan ataupun kebahagiaan mereka dengan oe dalam akoe, soekaboemi, soerabaya, soesah, ataupun barang-barang lain yang sebenarnya memakan waktu lebih sedikit jika singkat saja dituliskan dengan huruf u, bukan oe. Mungkin niat untuk tampil beda, atau sekedar nostalgia terhadap masa lalu, atau supaya mudah diingat. Entahlah, lagipula apalah artinya nama.

Yang jelas ini barang dagangan, yang target market nya, market niche-nya sudah pasti anak Jakartalah. Tepatnya anak Jakarta yang rumahnya di Menteng, Kebayoran, Bintaro, atau anak Jakarta yang pandai (kepandai-pandaian) berbahasa Inggris dan bisa (mengerti) bahasa Indonesia. Kenapa berbelit-belit? Singkatnya para Yuppies, atau anak Jakarta didikan luar negeri (Amrik, London, Sydney), ataupula expat yang sudah belajar bahasa Indonesia (ejaan baroe). Itu pasti alasan kenapa majalah ini menggunakan bahasa gado-gado Indonesia dan Inggris (tidak dituliskan dalam bentuk huruf miring). Tidak ada patokan kelihatannya kapan berbahasa Inggris, kapan berbahasa Indonesia, seperti banyak warga keren Jakarta yang jika bicara selalu rajin menyelipkan bahasa Inggris ; “Well, you know, itu loh di Plaza Senayan” atau “I know, dia itu selalu support me.”)

Untuk sekedar catatan, dari dua edisi yang sempat terbaca, kebanyakan artikel yang menggunakan 100% bahasa Indonesia seperti biasanya adalah laporan tentang mengenai masyarakat dari kelas sosial yang tak mampu ngupi di Plaza Senayan. Ada ‘Remang-remang Jakarta,’ di edisi Februari 2001, tentang gaya hidup warga kelas biasa-biasa saja, lantas ‘Monas: dulu, kini dan nanti (kalau jadi)’ dan ‘Enam ribu ton harapan di Bantar Gebang’ -juga di edisi Djakarta: Februari 2001, maupun ‘Pasar malam mobile’ di edisi Maret 2001 (March 2001, demikian tertera di cover majalah). Tentu saja termasuk rubrik-rubrik olahan para kolumnis beken seperti Ayu Utami, Wimar Witoelar dan Seno Gumira Ajidarma, plus surat pembaca.

Soal isi, majalah ini punya tujuan mulia –jika anda yakin kalau hiburan adalah bagian esensial dari hidup sehari-hari. Niatnya menjadi pemandu bagi pembacanya yang ingin menghabiskan waktu berleha-leha entah itu di restoran, kafe, bar, disco atau bioskop. Kalau boleh dibandingkan dengan majalah Time Out terbitan di London, maka Djakarta arahnya model-model begitu pulalah. Masalahnya, kelihatannya Djakarta belum tahu bentuk penyajian panduannya. Liputannya masih suka-suka saja sifatnya, kalau ada yang menarik yah diliput. Begitu pula dengan listing restoran/kafe atau acara musik atau tontonan lain yang digelar di Jakarta nya masih bersifat ‘gue suka, gue tulis,’ padahal Djakarta mengaku memuat ‘complete city listings guide.’ Misalnya, contoh nih, ada restoran yang nama dan alamatnya dimuat di listing Djakarta hanya sekali saja, tetapi ada juga, misalnya nih, Café Batavia yang hampir selalu dimasukkan dalam setiap edisi. Kriterianya tentu tak jelas; kenapa tidak semuanya dimuat lagi di setiap edisi?, itulah pertanyaannya. Toh pembaca akan butuh daftar yang sama setiap kali, sehingga kalau misalnya mereka ingin pergi ke satu restoran mereka bisa dengan mudah mendapatkan alamat ataupun acara di restoran/kafe itu, di edisi kapan pun. Jadi tidak usah sampai rumah harus menjadi kapal pecah hanya untuk mencari edisi tertentu yang memuat mengenai satu restoran tertentu yang ingin dikunjungi.

Kembali mencontoh majalah Time Out yang sudah established, majalah ini selalu konsisten dengan listing nya. Semua bioskop misalnya didaftarkan di situ dengan alamat, nomor telepon, film yang diputar dan jam pertunjukkan dan daftar ini selalu ada di edisi yang mana pun, sehingga benar-benar Time Out bisa menjadi panduan handal. Dan karena banyaknya jumlah restoran, mereka pun menerbitkan buku panduan tentang restoran di London. Di Jakarta dengan jumlah restoran/kafe seperti sekarang ini, rasanya masih bisa dimasukkan dalam listing biasa saja, asalkan konsisten. Selebihnya, Djakarta kelihatannya o.k, o.k, saja dan juga bisa menawarkan apa yang mungkin sulit dilakukan Time Out. Kan Jakarta, ouupsss, Djakarta bisa meliput warteg atau tukang baso di jalan Lembang. Ah, welcome Djakarta –bagi yang suka berleha-leha. Dan siapa bilang dalam bayang-bayang krisis ekonomi Indonesia, tak banyak yang punya waktu dan modal untuk berleha-leha. Paling tidak begitulah keyakinan Djakarta, atau paling tidak kelak Djakarta akan membuktikan apakah leha-leha masih punya tempat di saat satu dollar menembus 10.000 perak. But this is for expat…