Dokter Zhivago

Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Esok harinya berkatalah Tonya:

“Kau benar-benar aneh, Yura, banyak hal berlawanan dalam dirimu. Kadang-kadang kau dibangunkan oleh lalat dan tak dapat tidur kembali sampai pagi, padahal di sini kau tidur saja dengan segala hiruk pikuk ini dan aku tak dapat membangunkan kau. Coba pikir, Pritulyev dan Vassya sudah melarikan diri! Begitupun Tyagunova dan Ogryskova! Bisa kau bayangkan itu? Tunggu, itu belum semuanya. Voronyuk lari juga. Betul, percayalah, dia lari. Sekarang dengarkan. Bagaimana mereka sampai berhasil, bersama-sama atau sendiri-sendiri, dan bagaimana urutannya, semuanya tak diketahui. Tentang Voronyuk tentu dapat dimengerti, melihat yang lain-lainnya lenyap, ia harus berusaha menyelamatkan diri. Tapi yang lain-lain itu bagaimana? Mereka pergi atas kemauan sendiri ataukah ada yang disisihkan? Misalnya, kalau kedua perempuan itu boleh dicurigai, apakah Tyagunova membunuh Ogryskova, atau sebaliknya? Tak ada yang tahu. Pemimpin regu pekerja mundar-mandir dalam kereta api seperti orang gila. ‘Jangan kau berangkatkan kereta api. Demi undang-undang kuperintahkan jangan jalan sebelum kutangkap orang-orang tawananku.’ Komandan kereta api berteriak kembali: ‘Kubawa tentara ke medan perang, aku tak menunggu anak buahmu yang penuh kutu itu. Tak kuimpi-impi.’ Lalu pergilah kedua-duanya pada Kostoyed. ‘Kau yang sindikalis dan terpelajar, kau duduk saja membiarkan prajurit yang tulus, anak alam yang tak tahu apa-apa, bertindak secara gegabah? Katanya populis!’ Dan Kostoyed membalas sedapat-dapatnya. ‘Menarik sekali,’ ujarnya ‘tawanan harus menjaga pengawalnya, he? Sungguh, kalau itu terjadi, ayam betina akan berkokok.’ Kugoncang-goncang kau sekeras-kerasnya : ‘Yura! Bangun! Ada yang lari!’ Tapi sia-sia belaka. Kalaupun ada meriam meletup ke kupingmu, tak kau dengar juga…Tapi kelak saja kusambung cerita…O, tengok! Ayah, Yura, tengok, alangkah indahnya!”

Melalui lobang jendela, yang katanya sudah diambil, mereka dapat melihat daerah itu digenangi air bah musim semi dari ujung ke ujung. Tentunya ada sungai yang membobol tepi-tepinya, maka airpun sampai ke jalan kereta api. Kereta api itupun seakan betul-betul meluncur di atasnya.

Di sana sini permukaan air berobah jadi biru logam di atas air, selebihnya matahari yang terair mengejar-ngejar bidang-bidang cahaya yang halus yang mengaca, licin dan beminyak seperti mentega meleleh yang oleh tukang masak diusapkan dengan bulu atas kerak kur.

Dalam banjir tak bertepi ini tengelamlah awan-gemawan putih yang lonjong, tumpuknya tergenang bersama padang, jurang, dan semak-semak.

Dan di tengah air bah itu ada selajur tanah sempit dengan seleretan pohon-pohon, diperganda oleh bayangannya dalam air dan tergantung antara bumi dan langit.

“Tengok, bebek sekeluarga,” kata Alexander Alexandrovich.
“ Mana?”
“ Dekat pulau. Lebih ke kanan. Sayang mereka terbang. Takut pada kita.”
“ Ya kulihat sekarang,” ujar Yury. Sekali tempo kita hendaknya bicara, Alexandrovich. Lain kali…Tak mengapalah, kau senang sekali, kaum tawanan dan perempuan itu sudah ambil putusan. Dan aku yakin tak ada pembunuhan. Mereka hanya lari seperti air.
***bersambung

sonkski ekalya

Leave A Comment