Dokter Zhivago

Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo, disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Di tempat terbuka itu ada beberapa kuda-kuda; Yury dan Alexander Alexandrovich memanjatnya dan mulau menggergaji. Inilah saaatnya ketika musim semi keluar dari salju dengan memberi kesan seolah salju telah mengurungnya enam bulan yang lampau. Hutan berbau air dan ditimbuni daun-daun dari tahun yang lalu, seperti sebuah kamar tak tersapu, tempat orang menyobek surat, wesel dan kuitansi yang teronggok bertahun-tahun.

“Jangan cepat-cepat, ayah akan capek,” kata Yury, sambil menggerakkan gergajinya lebih lambat lagi beruntun. “Dan bagaimana kalau mengaso?”

Hutan bergema oleh dentingan parau dari gergaji-gergaji lain; dari jauh sekali seekor bulbul mencoba suaranya; dengan selingan waktu lebih panjang, seekor jajak bersiul seperti meniup debu dari suling, bahkan uap lokomotif naik ke langit, menyanyi bagai air susu yang mendidih di atas tungku spiritus seorang jururawat.

“Apa hendak kau katakan padaku tempo hari?” Tanya Alexander Alexandrovich. “Ingat? Kita lewat pulau, bebek terbang, lalu kau katakan hendak bicara sekali tempo.”

“Oh ya…Ah, bagaimana menyatakan ini sependek-pendeknya? Kupikir, kita merosot makin dalam. Seluruh daerah ini kacau balau. Entah apa akan kita jumpai, bila sampai ke sana. Barangkali kita perlu berpikir masak-masak untuk menghadapi. Yang kumaksud bukanlah keyakinan kita, dalam hutan bersemi dalam lima menit tak banyaklah yang dapat kusebut tentangnya. Kecuali itu, kita sudah saling mengenal betul. Ayah dan aku dan Tonya dan banyak lagi seperti kita, membina dunia kita sendiri-sendiri waktu ini. Satu-satunya perbedaan antara kita ialah derajat kesadaran kita tentang itu. Yang kumaksud ialah kita barangkali hendaknya bersetuju lebih dulu tentang kelakuan kita, supaya kita tidak usah malu atau membuat malu pada yang lain.”

“Kutahu maksudmu. Kuhargai caramu mempersoalkannya. Kuceritakanlah. Kau ingat malam itu pada musim dingin di tengah badai salju, ketika kau bawa surat kabar dengan dekrit-dekrit pertama dari pemerintah? Kau ingat betapa langsung dan tak terbantah dekrit-dekrit itu? Bukan main! Yang bicara pada kita ialah keesaan pemikirannya. Tapi itu hanya mengandung kemurnian asli bagi gagasan orang yang memahaminya, itupun hanya pada hari diumumkannya. Sehari kemudian, belat-belit politik sudah membalikkannya sama sekali, .Apa yang dapat kukatakan? Pemerintah ini memusuhi kita, filsafatnya asing bagiku, aku tak ditanya apakah kusetujui segala perubahan ini. Tapi aku dipercaya dan tindak-tandukku sendiri membuatku mempunyai tanggung-jawab tertentu, juga kalau tak dilakukan secara berbeda.”

“Tonya selalu bertanya apakah kita akan tiba pada waktunya untuk menanam sayur mayur kita. Entahlah. Aku tak kenal tanah atau iklim di Ural; musim panas pendek, sampai tak dapat kubayangkan bagaimana tumbuh-tumbuhan bisa berbuah matang pada waktunya.”

“Tapi betapa juga, kita bepergian bukan main jauhnya ini bukanlah untuk mejual hasil kita bercocok tanam. Lebih baik kita hadapi segala soal secacar jujur, tujuan kita lain sekali. Kita mencoba hidup dengan cara baru, ikut serta dalam memboroskan milik Kruger, pabrik-pabrik serta mesin-mesinnya. Kita tak hendak membina kembali kekayaannya, tapi tak ubahnya dengan tiap orang lain dengan cara yang luar biasa kacaunya, kita cincanglah kekayaan itu dan membantu memboroskan secara kolektif beribu-ribu kehidupan untuk mendapat kehidupan sekopek harganya. Aku bukannya ingin mengambil kembali tanah milik itu atas syarat-syarat lama sebagai hadiah, pun andaikata kau beri aku emas seberat badanku. Itu akan sama bodohnya dengan berlari-lari dengan telanjang atau mencoba melupakan abjad. Sebab jaman hak milik sudah lampau di Rusia, dan bagaimanapun juga, kita kaum Gromeko sudah tak punya keserakahan lagi seangkatan yang lalu.”
***bersambung

sonkski ekalya

Leave A Comment