Dokter Zhivago

Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

Bunyi ketawa dan gerak-gerik terdengar dari salah satu dua deresi yang digandeng; kesitulah pengawal membawa Yury setelah menyebut kode kepada penjaga, tapi bunyi tadi berhenti ketika dua orang itu masuk.

Pengawal itu mengantar Yury lewat gang sempit ke kompartemen yang lebar di tengah-tengah. Ruangan ini bersih dan nyaman, tempat kerja orang-orang yang berpakaian bagus di lingkungan sepi semata-mata. Apa yang telah dibayangkan Yury tentang latar belakang Strelnikov, ahli militer tak berpolitik yang kenamaan, yang menjadi buah kebangsaan dan ditakuti orang di daerah itu, adalah berlainan.

Tapi pastilah pusat kegiatannya yang sebenarnya ada di tempat lain, lebih dekat pada markas-markas staf dan pada tempat operasi tentara. Yang di sini tentunya para pengiring pribadinya, kantor pribadi serta tempatnya untuk tidur saja.

Itu sebabnya kesunyian ini yang lebih mirip kepada kesepian di tempat pemandangan orang sakit dengan lantai berlapis gabus dan para pelayan bersandal empuk.

Kantor itu adalah bekas wahon restorasi, dengan permadani dan beberapa lesenar di dalamnya.

“Sebentar,” kata seorang perwira muda di depan lesenar dekat pintu. Dengan anggukan kepala yang tak acuh ia menyuruh pergi pengawal tadi yang meninggalkan ruangan dengan bedil berderak-derak di atas lajuran logam yang dipaku melintang di lantai gang. Sesudah itu tiap orang merasa berhak melupakan Yury dan tak perlu memperhatikannya lebih lanjut.

Dari tempat ia berdiri di depan pintu, Yury dapat melihat surat-suratnya terletak di sebuah lesenar di ujung terjauh dalam kamar. Lesenar ini digunakan orang yang lebih tua dari lain-lainnya dan mirip pada seorang kolonel yang kolot. Ia sejenis ahli statistik tentara. Dengan kumat-kamit ia mencari-cari keterangan dalam buku-buku, mempelajari peta-peta, mengontrol, membandingkan, menggunting dan melekatkan sesuatu. Setelah memandangi setiap jendela, iapun memberitahukan: “Hawa jadi panas,” seolah kesimpulan itu dipaksakan padanya, baru sesudah diperiksanya semua jendela tadi.

Seorang ahli listrik tentara sedang merangkak-rangkak di lantai untuk membetulkan hubungan listrik yang putus. Ketika ia sampai ke lesenar dekat pintu, perwira muda tadi bangkit untuk meluangkan tempat baginya. Di depan meja sebelahnya seorang pengetik wanita dengan baju tentara dari kulit sedang bergumul dengan mesin tulisnya: wagennya telah tergelincir dan macet. Perwira muda tadi berdiri di sampingnya dan memeriksa sumber kerusakan dari atas, sedangkan si ahli listrik merangkak ke bawah meja serta memeriksanya dari bawah. Kolonel bergaya kolot itupun bangkit dan ikut serta, maka sibuklah keempat-empatnya dengan mesin ketik itu.

Hal ini membuat Yury merasa lebih senang. Orang-orang ini tentunya lebih mengetahui nasibnya dari pada dia sendiri; susah dipahamkan bahwa mereka akan berbuat tak acuh begitu dan sibuk dengan yang remeh-temeh, dihadirat orang yang mereka anggap tak dapat tertolong lagi.

“Tapi siapa tahu?” pikirnya. “Mengapa mereka tak acuh benar? Bedil meletup dan orang gugur, namun mereka ini tenang-tenang meramalkan suhu –bukan panasnya pertempuran, melainkan panasnya hawa. Barangkali mereka sudah terlalu banyak melihat, sampai tak punya perasaan lagi.”

Agar ada yang dilihatnya, ia pun memandang nanap melintasi kamar lewat jendela di seberangnya.
***bersambung