Dokter Zhivago

Boris Pasternak
(alih bahasa Trisno Sumardjo), disalin dari terbitan Djambatan, Maret 1960)

“Zhivago,” ulang Strelnikov, waktu mereka dudui di kamarnya.
“Zhivago…Pedagang agaknya. Atau bangsawan…O, bukan, dokter dari Moskow…Bepergian ke Varykino. Mengapa kamu tinggalkan Moskow untuk dusun terpencil ini?”
“Demikianlah maksudnya. Mencari yang tenang, terpencil dan tak dikenal, untuk mengaso.”
“Wah romantis benar! Varykino! Saya kenal kebanyakan dusun di sini. Itu dulu tanah milik Krieger. Kamu barangkali kerabatnya? Boleh jadi ahli warisnya?”
“Mengapa seironis itu? Soal ahli waris tak ada sangkut pautnya. Meskipun benar istri saya…”
“Nah begitu jadinya! Tapi jika tuan rindu pada Kaum Purih, saya terpaksa mengecewakan tuan. Daerah ini sudah kami bersihkan.”
“Tuan masih memperolok saya?”
“Apalagi seorang dokter. Dokter tentara. Dan kita berperang. Itu urusan saya memang. Tuan deserter. Kaum hijau* juga cari lindungan di hutan-hutan. Apa alasan tuan?”
“Saya dua kali luka dan cacat, hingga keluar dari tentara.”
“Sebentar lagi tuan berikan pada saya referensi dari Komisaris Rakyat Bagian Pendidikan atau Kesehatan untuk membuktikan bahwa tuan warga Soviet atau ‘simpatisan’ atau ‘loyal sekali.’ Ini jaman apokaliptis, tuan tersayang, bukannya jaman simpatisan atau dokter tak loyal. Tapi sudah saya katakan tuan bebas, tak saya tarik kembali ucapan saya, tapi ingatlah hanya untuk kali inilah. Saya rasa kita akan berjumpa lagi, maka percakapan kita akan lain sekali. Camkan.”

Yury tidak hilang akal oleh ancaman atau gertakan tadi. Ujarnya:
“Saya tahu pkiran tuan tentang saya. Dari segi tuan, tuan benar. Tapi soal yang tuan ingin perbincangkan dengan saya adalah soal yang telah saya perdebatkan seumur hidup dengan pendakwa yang saya khayalkan, jadi anehlah kalau sampai sekarang saya belum punya kesimplan, Sayanglah tak dapat saya terakan dalam beberapa kata saja. Jadi jika saya betul-betul bebas, ijinkan saya pergi tanpa menyelesaikan hak ini dengan tuan. Kalau belum bebas, putuskanlah apa hendak perbuat dengan saya. Saya tak berdalih pada tuan.”

Mereka diganggu oleh telepon. Kawatnya telah diperbaiki. Strelnikov mengangkat alat penerimaan.

“Terimakasih, Guryan. Sekarang kirimlah oran ke sini dengan baik-baik untuk mengantar kawan Zhivago ke kereta apinya. Aku tak ingin ada kekeliruan lagi. Dan hubungkan aku dengan Bagian Pengangkutan Razvilye Cheka..”

Seperginya Zhivago, Strelnikov menelepon stasiun kereta api.

“Ada ditangkap seorang anak sekolah yang menarik-narik pecinya ke atas telinga, kepalanya terbebat. Itu memalukan. Betul,. Ia mesti dirawat jika perlu. Tentu,. Ya kau bertanggung-jawab padaku pribadi, seolah dia biji matamu. Beri juga ransuman, jika perlu. Betul. Nah sekarang urusan kita….Aku masih bicara, jangan putuskan. Jahanam, ada orang yang bicara. Guryan! Guryan! Hubunganku putus!”

Buat sementara ia tak mencoba lagi menyambung percakapannya. ‘Mungkin dia salah seorang muridku dari sekolah lanjutan,” pikirnya. “Setelah besar kini ia memusuhi kita.” Dihitungnya tahun-tahun sejak ia berhenti mengajar, untuk mengetahui apakah benar-benar mungkin anak itu dulu muridnya. Kemudian ia melihat dari jendela ke arah kaki langit, mencari bagian dari Yuryatin, tempat ia tinggal dulu bersma istrinya. Kalau-kalau istirnya dan anaknya perempuan masih di sana? Dapatkah ia menjumpai mereka? Mengapa tidak sekarang, saat ini juga? Ya tapi bagaimana mungkin? Kehidupan mereka sudah berlainan. Mesti dijalaninya dulu penghidupannya yang sekarang yang baru ini, kemudian ia dapat kembali ke penghdiupan yang terhenti. Suatu waktu ia akan berbuat begitu. Tapi kapan, kapan?
***

Tamat

*istilah untuk menunjuk anarkis-anarkis terutama kaum petani yang melawan Tentara Merah maupun Tentara Putih.