Ilusivaganza

: Cahya Wulandari
 
Seperti petani menikahi bumi dengan hati penuh
hujan begitu ampuh
Tak bisa kutafsirkan dingin di beranda selain guano bagi melankoli
yang dibajak waktu, janji dan janji
Sebab tak hanya puisi atau Mata Indah Bola Ping Pong Iwan Fals yang amblas
Resital serangga yang semula vaksin kecut solitude
mrucrut bagai clurut clurut pengecut
Untung masih ada, Cahya
Serangan udara pada parafin di meja kayu
mengekas jihad anak-anak bangsa yang enggan dipanggang penjajah
Maka bersama kepasrahan Yusuf Alaihi Salam
kuamini anganangan remaja terjungkal di Kramat Raya 106
: Indonesia, tanah airku, tanah tumpah darahku
disanalah, aku berdiri, jadi pandu ibuku

Indonesia, kebangsaanku, bangsa dan tanah airku1
Wulandari! Malam yang melipat bulan dalam gerimis
adalah masa muda yang sial!
Kota berjalan, pedati, poci serta dongeng sebelum tidur tertatih tua
Kau dengar laju globalisasi, riak whisky sehingga blue CD?
Angin melepas Die Hard sehingga roma ereksi ramerame
Matahari, dapur terjaga, lagu aves pun rumput jauh dari tanda
mengupas jenuh sarat keluh kesah jaman
Abraos olhos2? Mulat sarira tansah eling klawan waspada3!
Tak ada pasal binasa dengan diam semacam arca!
Menggondol kesalahan Adam
sukma burung hantu selusur 24 februari kendati gelap begitu batu!
Ada ilusi di temaram bohlam gipsy:
Tangis pertamamu laksana Hawa menggumamkan liturgi khuldi
“Neraka ialah rasa kenyang kanakkanak
pada 99 Tuhan yang tahan basi!
Sudah jelas kita dikepung lecit dan sangar
kenapa malas melempar diri ke negri anyar?”
Ya, sebelum pesta, dansa dan khilaf terjadi
betapa niscaya mencuri mimpi dan imajinasi
dengan kinanthi yang puisi!
***
Nusantara 2003-2005

Catatan Kaki Puisi Ilusivaganza
1. Fragmen lagu Indonesia raya
2. Pasang mata baikbaik
3. Hati-hati selalu ingat dan wasp
ada