Mengenang Munir, Menolak Lupa (08121965 – 07092004) – A. Nur Ahmad

Munir namanya,
berkumis berperawakann kecil
bernyali bak panglima
suara lantang terdengar
menentang ketidakadilan
menantang para koruptor, pelanggar HAM, dan penindas jelata

teriakannya menggaung
merontokkan nyali para penindas
namun suara itu tak ada lagi
menghilang diterpa angin

Munir pergi
mati diracun atas pesawat
Munir mati, menimbulkan tanya

hingga detik ini, belum ada jawab
kenapa  munir dibunuh
lalu siapa dalangnya
siapa yang bisa jawab

dua rezim telah berlalu
kematian Munir
masih tanda 

lalu pada siapa tanya
harus dijawab 
***

Kupu-kupu Malam

ketika malam mengantar ke alam mimpi
suara dengkur menjadi merdu berirama
menjadi pengiring mimpi indah
saat semua mata terlelap lelah

khayalan redup melebur menjadi lelah
setelah jiwa-jiwa berjibaku dengan peluh
maka malam jadi waktu ternyaman
untuk bermimpi dan melepas penat
dan membiarkan jiwa terbang ke alam bawah sadar
namun di balik kedamaian malam
masih ada langkah-langkah gontai menyusuri lorong-lorong

menjajakan tubuh mengais penghidupan
untuk sekedar bertahan hidup
wanita-wanita malam,
kadang juga jadi kupu-kupu malam

dipanggil perempuan jalang
namun tak perduli atas semua itu
hidup butuh perjuangan
pengorbanan

bukan hanya jiwa tapi perasaan
untuk bertahan dan menghidupi diri dan anaknya.
tak perduli akan hujatan, apalagi makian
semua dihadapi dengan senyum
baginya bahagia itu bersabar

selamat malam wanita malam
semoga nasibmu tidak selamanya malang 

A. Nur Ahmad, lahir di makassar, bekerja sebagai jurnalis, dan kini aktif di Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulawesi Selatan.